Di lembah-lembah sunyi di kaki Gunung Tenran, Prefektur Saitama, Jepang, para relawan dengan gergaji tangan menjarangkan hutan, menanam dan memanen padi. Gunung itu tidak tinggi, hanya 197 meter, dan lebih mirip bukit besar, tetapi sekitarnya dianggap satoyama khas, yaitu lanskap tradisional tempat desa berdampingan dengan hutan dan sawah. Para relawan di tempat ini sudah menyelamatkan kawasan tersebut dari pembangunan sejak tiga puluh tahun lalu. Di antara rumpun sakura dan belukar susuki bersarang tikus panen mungil, dan di petak-petak sawah kunang-kunang berpijar pada malam hari. Yang ada di hadapan kita bukanlah alam liar murni, melainkan hasil campur tangan manusia yang terus-menerus namun lembut.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Sustainability pada tahun 2025 mempertanyakan gagasan umum bahwa kepergian manusia secara otomatis memulihkan alam. Para ilmuwan dari Universitas Sheffield serta universitas Jepang Tokyo City dan Kindai meneliti lanskap hutan, pertanian, dan pinggiran kota di Jepang. Mereka memadukan data jumlah penduduk, penggunaan lahan, dan suhu dengan lebih dari 1,5 juta pengamatan terhadap 464 spesies burung, kupu-kupu, kunang-kunang, dan telur katak, serta terhadap 2 922 spesies tumbuhan. Mereka mencakup periode dari tahun 5 hingga 17, mulai dari tahun 2004. Hasilnya ternyata tak terduga: kehilangan keanekaragaman hayati tercatat pada sebagian besar kelompok yang diteliti, terlepas dari apakah populasi di wilayah itu bertambah atau berkurang. Alam hanya tampak lebih stabil di tempat-tempat yang jumlah penduduknya tidak berubah.
Jepang disebut para peneliti sebagai «negara garda depan» depopulasi: menurut mereka, apa yang sudah terjadi di sini dapat terulang di Korea Selatan dan Tiongkok dalam beberapa dekade mendatang. Populasi negara itu menyusut dengan cepat. Sensus tahun 2025 menunjukkan penurunan sebesar 2,5 % dalam lima tahun, atau 3,17 juta orang. Menurut data Bank Dunia, proporsi penduduk pedesaan sekitar 7,7 %. Desa-desa yang kosong berubah menjadi dua skenario berbeda, dan keduanya merugikan alam liar: sebagian sawah yang ditinggalkan dibangun, dan sebagian lagi ditumbuhi gulma. Di Eropa pun gambarnya tidak tunggal. Menurut data Eurostat, pada tahun 2015–2020 populasi wilayah yang sebagian besar pedesaan di UE menurun sekitar 0,1 % per tahun, sementara dalam publikasi lain lembaga itu disebutkan 0,2 % per tahun.
Padang rumput semi-alami yang selama berabad-abad diciptakan manusia melalui pemotongan rumput dan penggembalaan terutama menunjukkan bagaimana hal ini bekerja. Di Swedia sekitar sepertiga spesies yang masuk daftar merah terkait dengan lanskap pertanian tempat padang rumput semacam itu masih bertahan. Di satu meter persegi di sini tak jarang ditemukan sekitar empat puluh spesies tumbuhan berpembuluh, bahkan kadang lebih. Namun selama 100–150 tahun terakhir, habitat semi-alami di negara itu menyusut drastis, dan sebagian besar padang rumput Swedia saat ini tidak memenuhi kriteria kondisi konservasi yang baik.
Banyak spesies telah beradaptasi dengan gangguan yang moderat dan teratur: banjir musiman di petak sawah, penggembalaan, penjarangan hutan, dan pembakaran rumput. Ketika praktik-praktik ini berhenti, lanskap perlahan-lahan ditumbuhi hutan yang seragam atau mengering, dan bersamanya hilanglah habitat bagi amfibi, serangga, dan rerumputan. Ilustrasi yang baik adalah kunang-kunang heike: populasinya dalam beberapa tahun terakhir menyusut cepat di banyak wilayah Jepang, dan di satoyama komunitas lokal memulihkan habitat perairan justru untuknya. Para penulis penelitian menekankan bahwa tanpa dukungan yang terarah, lanskap semacam itu sering tidak pulih, dan tidak ada gunanya menunggu semuanya membaik dengan sendirinya.
Namun, kesimpulan itu memiliki catatan. Di tempat-tempat yang keanekaragaman hayatinya terbentuk bersama penggunaan lahan tradisional, «pengembalian alam» secara sederhana dapat berujung pada kehilangan. Menurut logika penelitian ini, justru tempat-tempat seperti itulah yang membutuhkan kelanjutan perawatan yang biasa, bukan penghentiannya.
Karena itu, pembicaraan tentang masa depan pedalaman Jepang dan Eropa tidak bermuara pada pilihan antara manusia dan alam. Para peneliti menyerukan untuk memadukan renaturalisasi dengan pembangunan ekonomi dan bersandar pada praktik tradisional. Dukungan bagi pertanian kecil dan pelatihan bagi penduduk lokal dalam merawat lahan tampak sebagai alternatif yang masuk akal dibandingkan cagar alam semata.
