Batu, air, dan udara mulai bernyanyi: alam semesta Tarek Atoui

Penulis: Inna Horoshkina One

Keramik, batu, udara, dan gerak berpadu membentuk lingkungan bunyi yang menyatu. Bagi Tarek Atoui, musik tidak terpisah dari ruang—musik muncul dari interaksi hidup antara materi, manusia, dan perhatian.

Seniman dan komposer Lebanon-Prancis Tarek Atoui Tarek Atoui mengajak kita untuk tidak memisahkan musik dari dunia. Ia menciptakan instrumen dari kaca, air, keramik, logam, dan udara, mengubah arsitektur menjadi tubuh yang beresonansi, dan mengundang manusia untuk mendengar bukan hanya dengan telinga.

13 Oktober 2026 Atoui akan membuka instalasi suara baru di Turbine Hall galeri Tate Modern di London — salah satu ruang pameran terbesar dan paling tidak biasa di dunia.

Di sini tidak akan ada panggung yang biasa dengan karya yang sudah selesai sebelum penonton datang.

Ruang itu akan menjadi instrumen. Pengunjung — menjadi peserta.
Dan mendengarkan — menjadi cara berinteraksi dengan dunia.

Aula yang mustahil dibungkam

Turbine Hall Tate Modern adalah bekas ruang industri setinggi gedung bertingkat. Setiap hari, turis, rombongan sekolah, keluarga, dan pengunjung yang kebetulan lewat melintasinya. Di sini orang berbicara, tertawa, berlari, berhenti, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Untuk konser tradisional, lingkungan semacam itu akan menjadi masalah serius. Di aula ini terlalu banyak pantulan, kebisingan yang tak terduga, dan orang-orang yang terus bergerak.

Namun Atoui tidak berusaha mencapai keheningan yang steril atau mengulang pertunjukan yang sudah ditentukan sebelumnya. Ia tertarik pada proses munculnya bunyi itu sendiri — pertemuan antara instrumen, ruangan, dan manusia yang hadir.

Karena itu, kebisingan aula tidak selalu menjadi penghalang. Ia bisa masuk ke dalam keseluruhan bunyi sebagai peserta lain yang setara.

Rancangan pasti instalasi baru ini belum diungkapkan. Hingga pembukaannya, sang seniman sengaja merahasiakan detailnya. Yang diketahui adalah bahwa ini akan menjadi karya yang diciptakan khusus untuk Turbine Hall dan menelusuri hubungan antara bunyi, getaran, arsitektur, dan audiens.

Pameran ini akan berlangsung hingga 11 April 2027 dan akan menjadi proyek kesebelas dari program tahunan Hyundai Commission. Selama satu dekade terakhir, karya-karya dalam seri ini telah dilihat oleh lebih dari 19 juta orang. The Guardian

Instrumen yang sebelumnya tidak pernah ada

Tarek Atoui lahir di Beirut pada tahun 1980, mempelajari musik eksperimental di Prancis, dan kini tinggal serta bekerja di Paris.

Alih-alih sekadar merilis album dan menggelar tur konser, ia mulai menelusuri hakikat mendengarkan itu sendiri. Bersama para insinyur, perajin, musisi, dan seniman, Atoui menciptakan instrumen-instrumen tak biasa yang sekaligus menyerupai mekanisme, patung, dan organisme hidup.

Dalam proyek-proyeknya sebelumnya ia menggunakan:

Tarek Atoui | Improvisasi dalam 10 Hari | Pirelli HangarBicocca
  • kaca, air, batu, keramik, dan logam;
  • aliran udara dan bilik akustik;
  • motor dan sensor elektronik;
  • bunyi komputer;
  • rekaman pelabuhan, laut, dan ruang industri;
  • sentuhan, napas, dan gerak manusia.

Sebagian perangkat harus digerakkan dengan tangan, sebagian lagi merespons udara atau impuls motor. Beberapa dapat dipandang sebagai patung selama diam, tetapi begitu diaktifkan, mereka mulai membuka ruang melalui bunyi.

Atoui tidak sekadar menciptakan warna bunyi yang tak biasa. Ia menelusuri, apa sesungguhnya yang menjadikan sebuah objek sebagai instrumen.

Mungkin yang menjadi instrumen bukan hanya benda, melainkan seluruh sistem relasi: material, sentuhan, ruangan, pendengar, dan perhatian, yang terjalin dalam satu peristiwa.

Mendengar tidak hanya dengan telinga

Salah satu pengalaman terpenting bagi Atoui adalah bekerja bersama para siswa sebuah sekolah untuk tunarungu di Sharjah, Uni Emirat Arab.

Dalam kegiatan belajar digunakan frekuensi rendah yang dapat dirasakan oleh tubuh. Gelombang bunyi dipersepsi melalui getaran, tekanan, dan gerak material — tanpa perlu mendengarnya dengan cara yang biasa.

Pengalaman ini membantu sang seniman melihat: tidak ada satu cara mendengarkan yang berlaku universal.

Manusia berbeda dalam rentang pendengaran, susunan tubuh, perhatian, pengalaman, dan keadaan emosi. Seseorang menangkap frekuensi tinggi yang tidak lagi dipersepsi orang lain. Sebuah lagu tertentu dapat terdengar sangat berbeda dalam kegembiraan, kesedihan, atau keheningan setelah pengalaman yang mendalam. Dengung listrik yang terus-menerus bisa tetap tak disadari sampai seseorang menarik perhatian kita padanya.

Karena itu, yang mendengar bukanlah telinga semata.

Yang mendengar adalah manusia seutuhnya — tubuh, ingatan, emosi, dan perhatian yang terarah.

Deskripsi resmi proyek baru ini menegaskan prinsip tersebut: karya Atoui memperluas konsep bunyi melampaui pendengaran dan menelusuri cara-cara taktil serta visual untuk mempersepsinya. The Guardian

Sejarah yang terekam dalam air

Dalam proyek Waters’ Witness — «Saksi Air» — Atoui menelusuri lanskap bunyi kota-kota pelabuhan, termasuk Athena, Beirut, Abu Dhabi, Istanbul, Porto, Singapura, dan Sydney.

Rekaman dibuat di dekat pesisir, di bawah air, dan di sekitar infrastruktur kota. Demikianlah terungkap lapisan-lapisan akustik yang biasanya tak terjangkau perhatian manusia: pergerakan kapal, kerja mesin, impuls bawah air, aktivitas militer, dan suara lingkungan itu sendiri.

Sang seniman menggabungkan rekaman-rekaman ini dengan marmer, logam, keramik, dan batu, mengubah bunyi yang terkumpul menjadi pengalaman ruang.

Air di sini menjadi bukan latar belakang, melainkan pembawa memori. Ia menyimpan jejak aktivitas manusia, pergerakan kota, dan sejarah tempat.

Demikianlah lahir bentuk pendokumentasian yang lain: masa lalu tidak hanya dapat dibaca atau dipandang — ia dapat didengar dalam getaran ruang.

Bukan konser, melainkan bunyi bersama

Setelah pembukaannya, karya baru di Tate Modern akan secara berkala berubah menjadi panggung untuk improvisasi langsung.

Dua sesi musik pertama dijadwalkan pada 17 Oktober 2026. Bersama Tarek Atoui akan tampil para peserta proyek Emptyset, pemain terompet dan komposer Mazen Kerbaj, multiinstrumentalis Kenichi Iwasa, dan penyanyi Aya Metwalli.

Vokal, elektronik, dan instrumen akustik akan berinteraksi dengan instalasi itu sendiri. Dalam satu kesempatan, para musisi dapat menggunakannya sebagai sistem bunyi, dalam kesempatan lain — sebagai seperangkat instrumen atau lingkungan akustik yang mandiri.

Konsekuensinya, karya ini tidak akan terdengar sama dua kali.

Para pemain berganti. Para pendengar berpindah. Ruang merespons impuls-impuls baru.
Setiap pertemuan menciptakan versi keseluruhannya sendiri.

Di pusat proyek ini terdapat pendengaran bersama, improvisasi, dan menghimpun orang-orang di sekitar bunyi.

Apa yang diingatkan musik kepada kita?

Kita tidak berada di luar dunia dan tidak mengamatinya dari titik yang terisolasi. Langkah kita sudah mengubah bunyinya, napas masuk ke dalam ritme bersama, dan perhatian menyingkap apa yang sebelumnya luput dari perhatian.

Kita tidak harus memiliki pendengaran profesional atau mengetahui teori musik untuk menjadi bagian dari partitur ini. Setiap bentuk kehadiran membawa getarannya sendiri ke dalamnya.

Tidak ada yang perlu melepaskan hakikatnya demi kesatuan. Sebaliknya, bunyi bersama justru menjadi lebih kaya karena setiap orang masuk ke dalamnya dengan suaranya sendiri.

Musik lahir bukan ketika dunia dipaksa berbunyi, melainkan ketika suara-suara dunianya yang beragam dibiarkan saling mendengar.

3 Tampilan

Komentar

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.