Di negara yang akses listriknya dinikmati kurang dari separuh penduduk, dealer hampir tidak lagi menawarkan mobil berbahan bakar bensin. Etiopia menjadi negara pertama di dunia yang melarang impor kendaraan bermesin pembakaran internal pada awal tahun 2024 — dan dalam dua tahun porsi mobil listrik di jalan raya naik dari kurang dari satu persen menjadi lima sampai enam persen. Ini bukan kampanye iklim, melainkan penghematan ketat: negara itu menghabiskan hingga enam miliar dolar per tahun untuk bahan bakar, menguras cadangan valuta asing.
Bagi pengemudi biasa, seperti para sopir taksi di Addis Ababa, peralihan ini berbuah keuntungan langsung. Dulu sepertiga pendapatan habis untuk bensin dan antrean di SPBU; kini pengisian daya hanya memakan sekitar lima persen. Mobil listrik Tiongkok baru — BYD, Changan, dan lainnya — menjadi lebih terjangkau daripada mobil bensin bekas berkat penurunan tarif bea masuk: hingga 15 persen untuk mobil jadi dan nol untuk perakitan dari komponen. Pasar bereaksi seketika: dealer mengalihkan orientasi, dan hampir seluruh penjualan adalah mobil listrik.
Di balik ini bukan kebijakan "hijau" yang abstrak, melainkan kalkulasi konkret pemerintah. Impor bahan bakar menggerus cadangan valuta asing dan menuntut subsidi yang membebani anggaran. Larangan ditambah insentif untuk mobil listrik memungkinkan pengalihan uang ke dalam negeri dan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air yang sudah dibangun — lebih dari 96 persen listrik di Etiopia berasal dari sumber terbarukan. Anggaran pribadi pengemudi dan kas negara menang secara bersamaan, meskipun infrastruktur pengisian daya masih tertinggal: stasiun cepat bisa dihitung dengan jari, dan jaringannya tidak stabil.
Dorongan tersembunyi itu jelas: ketika valuta asing langka, setiap pengeluaran untuk bahan bakar impor menjadi kemewahan yang tak terbayangkan. Etiopia menunjukkan bagaimana tekanan fiskal dapat mempercepat pergeseran teknologi lebih cepat daripada kesepakatan iklim. Para pengemudi berhemat bukan demi ekologi, melainkan karena jika tidak, mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan; negara pun demikian — agar tidak menghabiskan cadangan terakhir untuk bensin. Risiko tetap ada: jika jaringan pengisian daya tidak mengejar, dan konflik kembali terjadi, peralihan bisa terhenti.
Dalam jangka panjang, keberhasilan bergantung pada apakah negara mampu mengubah penghematan yang terpaksa menjadi sistem yang berkelanjutan. Saat ini sudah ada lebih dari seratus ribu mobil listrik dari 1,2 juta kendaraan terdaftar, dan targetnya setengah juta pada tahun 2030. Ini bukan sekadar penggantian transportasi, melainkan penataan ulang cara orang membelanjakan dan menabung: lebih sedikit uang untuk bahan bakar berarti lebih banyak untuk keluarga, usaha, atau tabungan. Bagi ekonomi berkembang, pendekatan seperti ini bisa menjadi model — tidak menunggu kondisi ideal, melainkan memanfaatkan keterbatasan sebagai pendorong.
Uang, seperti air, menemukan jalan dengan hambatan terkecil: ketika bensin menjadi terlalu mahal dalam nilai valuta asing, aliran beralih ke listrik yang sudah tersedia di dalam negeri. Etiopia membuktikan bahwa bahkan dengan infrastruktur yang lemah, larangan tegas mampu membalikkan pasar dalam beberapa tahun. Pertanyaan utama kini adalah apakah momentum ini cukup bagi infrastruktur dan ekonomi untuk mengejarnya.

