Sebanyak 90% artikel biomedis kini menunjukkan tanda-tanda bantuan AI

Diedit oleh: Svitlana Velhush

"Staggering 90% of biomedical papers now show signs of AI help": Only those who never tried the latest frontier LLMs & are unaware of how good they are must be surprised by this. Soon this will sound as daft as those who opposed the introduction of computers or calculators...

nature
nature
@Nature

The use of AI to write scientific papers could be much more prevalent than was previously thought go.nature.com/4cANxOn

Reply

Kecerdasan buatan dengan cepat mengubah tidak hanya jurnalisme, pendidikan, dan bisnis, tetapi juga cara penulisan sains modern itu sendiri.

Sebuah studi baru yang diterbitkan pada Agustus 2026 di arXiv menunjukkan tren yang mengejutkan: menjelang akhir 2025, tanda-tanda penggunaan model bahasa besar ditemukan di hampir sembilan dari sepuluh artikel biomedis.

Namun, penting untuk memahami poin utamanya: ini tidak berarti bahwa 90% karya ilmiah ditulis sepenuhnya oleh AI.

Hal ini merujuk pada fakta bahwa kecerdasan buatan semakin sering membantu penulis dalam merumuskan, menyunting, dan menulis ulang bagian-bagian teks tertentu.

Skalanya ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya

Para peneliti menganalisis teks lengkap artikel biomedis dari PubMed Central.

Menurut perkiraan mereka, proporsi publikasi dengan tanda-tanda keterlibatan LLM mencapai sekitar 52% pada tahun 2024 dan meningkat menjadi sekitar 77% pada 2025.

Dan menjelang Desember 2025, angka tersebut mendekati 89%.

Angka ini jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya karena dulu para ilmuwan lebih sering hanya menganalisis abstrak.

Ketika tim tersebut melihat artikel secara lengkap, menjadi jelas bahwa penggunaan AI bisa jauh lebih luas daripada yang diperkirakan.

Di mana AI paling sering ditemukan

Jejak LLM yang paling mencolok ditemukan oleh para peneliti di bagian-bagian artikel di mana penulis perlu menjelaskan, menafsirkan, dan merumuskan pemikiran.

Tanda-tanda AI terutama sering ditemukan pada pendahuluan dan pembahasan.

Jauh lebih jarang ditemukan di bagian metode dan hasil.

Dan ini sangat logis.

Justru bagian pendahuluan dan pembahasanlah yang memerlukan banyak teks koheren, perumusan, perbandingan dengan penelitian sebelumnya, serta penjelasan mengenai makna data yang diperoleh.

Artinya, AI semakin sering digunakan sebagai semacam editor ilmiah atau asisten gaya bahasa.

Namun, muncul risiko baru

Masalah dimulai ketika model bahasa digunakan tidak hanya untuk menyunting teks, tetapi juga untuk mendeskripsikan hasil faktual.

LLM mampu menciptakan rumusan yang sangat meyakinkan, bahkan ketika informasinya keliru.

Itulah sebabnya para peneliti sangat khawatir dengan penggunaan AI di bagian Results.

Jika model mulai "mengarang" data, ini bukan lagi masalah gaya bahasa — ini adalah ancaman potensial terhadap kredibilitas sains.

Ada masalah lain.

Jika ribuan ilmuwan menggunakan model yang sama, teks ilmiah secara bertahap bisa menjadi mirip satu sama lain.

Konstruksi kalimat yang sama, cara penjelasan yang sama, dan pola logika yang sama dapat menyebar ke seluruh literatur jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Para ilmuwan sendiri mengakui bahwa mereka menggunakan AI

Skala tren ini juga dikonfirmasi oleh survei.

Pada tahun 2025 sekitar 71% peneliti mengakui bahwa mereka menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu penulisan teks ilmiah.

Dan angka sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi.

Bagi banyak ilmuwan, terutama mereka yang bahasa Inggrisnya bukan bahasa ibu, LLM telah menjadi alat yang praktis: alat ini membantu memperbaiki tata bahasa, membuat teks lebih mudah dipahami, dan mempercepat persiapan naskah untuk publikasi.

Oleh karena itu, komunitas ilmiah kemungkinan besar tidak akan bisa lagi sepenuhnya meninggalkan AI.

“Pasta gigi tidak bisa dimasukkan kembali ke dalam tubenya”

Salah satu peneliti, saat mengomentari situasi ini, menggambarkan apa yang terjadi dengan sangat tepat:

“Pasta gigi sudah keluar dari tubenya, dan tidak bisa dimasukkan kembali.”

Dan ini, mungkin, adalah hal yang paling utama.

Pertanyaannya bukan lagi apakah para ilmuwan akan menggunakan AI.

Mereka sudah menggunakannya secara massal.

Sekarang yang lebih penting adalah: di mana batas antara bantuan dalam penulisan teks dan intervensi terhadap isi karya ilmiah.

Bolehkah meminta model untuk memperbaiki bahasa Inggris?

Bolehkah menulis ulang paragraf yang rumit?

Bolehkah membiarkannya menafsirkan hasil penelitian?

Bagaimana dengan membuat bagian pembahasan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini masih harus dirumuskan oleh komunitas ilmiah.

Sains memasuki era baru

Ada satu catatan penting lainnya: penelitian ini baru diterbitkan sebagai pracetak dan belum melalui tinjauan sejawat ilmiah yang lengkap.

Oleh karena itu, angka-angka tersebut mungkin akan diperbarui.

Namun, meskipun penilaian akhirnya ternyata sedikit lebih rendah, tren umumnya sudah terlihat jelas.

AI menjadi bagian dari penulisan ilmiah—sama seperti komputer, mesin pencari, dan program statistik yang dulunya menjadi bagian dari pekerjaan.

Dan sekarang pertanyaan utamanya bukan lagi:

“Apakah sains ditulis dengan bantuan AI?”

Melainkan:

“Akankah literatur ilmiah mampu mempertahankan orisinalitas, transparansi, dan kepercayaan jika hampir setiap teks diproses melalui model bahasa yang sama?”

10 Tampilan

Sumber-sumber

  • Staggering 90% of biomedical papers now show signs of AI help

Baca lebih banyak artikel tentang topik ini:

🚨 NSW Supreme Court just told the state to calm down 👏 Judge rejects putting a guy on a terror watch list over “F*k Israel” graffiti, and calls out the prosecution for treating every Jew as a monolithic Israel fanclub. “You are treating all Jews as monolithic… a statement of

Image
Reply
Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.