Setelah publikasi laporan laba kuartal pertama dan kedua tahun 2026, saham Hermès mengalami guncangan hebat. Pada bulan April, saham anjlok 14,2% — penurunan terburuk dalam sejarah perusahaan, dan pada akhir Juli terjadi gelombang penjualan lagi: penurunan 11%, hari terburuk dalam 15 tahun. Investor bereaksi terhadap perlambatan pertumbuhan di wilayah-wilayah utama: Timur Tengah menghadapi krisis geopolitik, dan Tiongkok — pasar terpenting bagi Hermès, yang menyumbang 43% dari pendapatan perusahaan — belum menunjukkan pemulihan yang dijanjikan. Ini bukan sekadar angka: di balik penurunan ini terdapat pergeseran yang lebih dalam dalam persepsi merek, yang selama puluhan tahun membangun reputasi berdasarkan ketidaktersediaan dan pengerjaan tangan.
Di tengah pertumbuhan yang sudah melambat di Asia (hanya 3,5% pada kuartal pertama, di bawah perkiraan 7,7%), pada bulan April konflik di kawasan ini semakin merusak arus wisatawan — perdagangan di bandara turun 7%, penjualan langsung di butik-butik Teluk Persia turun 15%, dan ini segera tercermin pada pendapatan teratas. Bersamaan dengan itu, kenaikan harga berulang kali mulai menekan volume penjualan — pada bulan Juli, Direktur Keuangan Eric Du Halgouet mengakui bahwa kenaikan harga pada tahun 2027 akan lebih moderat daripada tahun 2026. Ini adalah pengakuan tersirat bahwa elastisitas permintaan mencapai batasnya.
Hermès lama bertahan sebagai pengecualian — bahkan di saat permintaan Birkin dan Kelly menurun, antrean tetap ada karena eksklusivitas dan kontrol pasokan yang ketat. Kini, faktor geopolitik dan kurangnya pemulihan di Tiongkok memaksa peninjauan kembali sejauh mana kekebalan ini bersifat universal. Permintaan tidak tumbuh pesat: produk kulit menunjukkan pertumbuhan 10,2% pada kuartal kedua, tetapi ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 10,7%.
Dalam kondisi ketika pasar Amerika (pertumbuhan 17% pada kuartal pertama) dan Jepang (10%) masih tumbuh, sementara Eropa menunjukkan stabilitas, konsentrasi permintaan global tidak lagi menjadi bantalan yang cukup. Segmen mewah memasuki fase baru: apa yang sebelumnya berfungsi sebagai sinyal keanggotaan dalam lingkaran sempit, kini dipersepsikan oleh pembeli dalam konteks percakapan yang lebih luas tentang nilai dan ketersediaan. Persaingan semakin ketat bukan pada harga, melainkan pada makna — pembeli mulai membedakan merek yang benar-benar berinvestasi dalam kualitas dan inovasi dari mereka yang hanya memainkan skenario kelangkaan. Mereka tidak hanya mencari status, tetapi kepastian bahwa barang tersebut akan mempertahankan nilainya dan tidak kehilangan relevansinya setelah satu musim. Hermès masih menawarkan jaminan ini lebih baik daripada banyak merek lain, tetapi pasar menuntut bukti bahwa eksklusivitas tidak berubah menjadi sekadar pemasaran yang mahal.
Meskipun menghadapi tantangan ini, fundamental Hermès tetap luar biasa: margin operasional 41% dengan tingkat pertumbuhan 6–7% mempertahankan perusahaan di jajaran elit segmen mewah. Namun, ini sekarang tidak cukup untuk mempertahankan kelipatan premium.
Pada tahun 2010-an, penurunan di Asia dengan cepat dikompensasi oleh pertumbuhan di Amerika dan Timur Tengah. Saat ini, perang, ketidakpastian ekonomi, dan tekanan harga menghantam beberapa pilar sekaligus, sementara Tiongkok tidak terburu-buru untuk kembali ke volume sebelumnya. CEO Axel Dumas sangat berhati-hati dalam memilih kata-katanya: "Saya melihat stabilisasi pasar Tiongkok, tetapi saya tidak melihat pemulihan fundamental." Ini adalah eufemisme, dan pasar memahaminya.
Hermès tetap menjadi tolok ukur keahlian mewah, tetapi kesulitan yang dihadapinya saat ini menunjukkan bahwa bahkan rumah mode terkuat pun harus beradaptasi dengan dunia di mana loyalitas tidak lagi diberikan secara otomatis, dan keseimbangan antara kelangkaan dan ketersediaan memerlukan penyesuaian terus-menerus. Pemulihan dimungkinkan, tetapi itu akan membutuhkan tidak hanya kesabaran, tetapi juga pengakuan bahwa model yang dibangun di atas antrean dan ketidaktersediaan perlu dipikirkan ulang.




