Tigst Assefa berlari seolah rekor dunia sudah ada dalam genggamannya. Hingga kilometer keempat puluh, perempuan Etiopia itu melampaui catatan waktu Ruth Chepngetich dan tampaknya sebentar lagi akan merebut kembali puncak yang hilang dua tahun lalu. Namun pada dua kilometer terakhir tubuhnya menyerah: kram, pincang, rasa sakit yang terlihat jelas — dan 68 detik yang memisahkannya dari pencapaian terbesar itu menguap begitu saja.
Waktu 2:11:04 menjadi rekor baru lintasan di Berlin dan hasil terbaik ketiga dalam sejarah maraton putri. Assefa memperbaiki catatan Berlin miliknya sendiri pada tahun 2023 sebanyak 49 detik, ketika 2:11:53 miliknya dianggap sebagai rekor dunia. Kini ia finis di belakang Chepngetich dan Fotyen Tesfay, tetapi di depan seluruh planet lainnya. Pelari-pelari Etiopia menempati lima posisi teratas, dan Gaye Adola memenangi lomba putra.
Paradoksnya, justru sprint agresif antara kilometer ke-25 dan ke-35 — dua segmen masing-masing sejauh 15:15 dan 15:17 — yang membuatnya kehilangan rekor. Assefa, seperti biasa, membaca tubuhnya lebih baik daripada orang lain, tetapi bahkan intuisinya tidak menyelamatkannya dari pengurasan tenaga berlebihan. Di balik ini bukan sekadar taktik, melainkan sekolah maraton Etiopia yang mendalam, tempat dominasi dibangun atas persiapan kolektif dan kesediaan mempertaruhkan segalanya demi kemenangan.
Rekor Chepngetich masih menggantung di atas olahraga ini seperti bayangan: perempuan Kenya itu menerima skorsing tiga tahun karena doping, tetapi waktunya 2:09:56 tidak dibatalkan. Assefa, peraih medali perak Olimpiade di Paris dan juara London-2026, kini kembali menjadi yang terdekat dengan puncak, tetapi harga kedekatan itu adalah cedera Achilles dan air mata di garis finis.
Bayangkan seorang pembalap yang memimpin sepanjang putaran, lalu pada tikungan terakhir mesinnya meledak karena kepanasan. Begitu pula di sini: keunggulan lima menit pada kilometer ke-35 berubah menjadi perjuangan putus asa menuju finis. Ini bukan sekadar kegagalan — ini pengingat bahwa maraton menghukum mereka yang terlalu dekat mendekati batas.
Bagi Assefa, hasil ini adalah penampilan kemenangan besar kelimanya dan kemenangan ketiganya di Berlin. Ia bahkan melampaui jumlah kemenangan besar Haile Gebrselassie di antara orang-orang Etiopia. Namun pertanyaan utamanya kini bukanlah angka, melainkan apakah ia mampu pulih dan mencoba lagi, selagi usia dan tubuhnya masih memungkinkan.


