Di tengah lebatnya hutan di kaki perbukitan timur Taunus, hanya beberapa sentimeter di bawah serasah daun dan akar, para arkeolog menemukan batu-batu yang tersusun rapi. Batu-batu itu ternyata fondasi sebuah tempat suci kecil berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar lima meter, yang tersembunyi di tepi benteng Romawi Kapersburg.
Benteng yang dibangun pada abad ke-2 Masehi di perbatasan utara kekaisaran, tidak jauh dari Frankfurt modern, sudah lama dikenal para sejarawan. Namun permukiman sipil di sekitarnya — vicus, tempat tinggal keluarga prajurit, pedagang, dan perajin — hingga penggalian terkini hampir belum diteliti. Sejak 2024, para ahli hessenARCHÄOLOGIE bersama Universitas Goethe di Frankfurt melakukan penelitian sistematis di sini, dan pada 2026 perhatian tertuju pada gundukan tanah yang mencurigakan.
Di dalam persegi panjang itu ditemukan ruangan persegi yang lebih kecil dengan tiga dinding tebal berukuran sekitar setengah meter. Tampaknya ini adalah kuil dengan serambi: ruang pemujaan utama dengan pintu atau gerbang kayu, dikelilingi lorong beratap. Fragmen prasasti persembahan secara langsung menunjukkan pemujaan kepada dewa perang Mars. Di dekatnya tergeletak pecahan-pecahan patung yang, dilihat dari bentuknya, menggambarkan dewa yang sama, dan torso yang hampir utuh dari sosok bersayap dengan dahan palem dan karangan daun laurel — dewi kemenangan Victoria.
Selain itu, ditemukan dua batu votif dengan tulisan yang kini sedang diteliti oleh Profesor Markus Scholz. Persembahan semacam itu adalah hal biasa bagi militer dan warga sipil Romawi di perbatasan: orang-orang membawa persembahan dengan harapan akan perlindungan di wilayah yang berbahaya. Kuil itu kemungkinan melayani bukan hanya kalangan militer, tetapi juga penduduk vicus, menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan perlindungan ilahi.
Menariknya, di dekat kuil itu ditemukan fibula dari masa akhir kuno dan pecahan-pecahan keramik buatan tangan. Temuan ini dapat menunjukkan bahwa tempat itu terus digunakan bahkan setelah kepergian garnisun Romawi pada abad ke-3. Mungkin di sini menetap kelompok-kelompok Alemanni yang memelihara ingatan akan penghuni sebelumnya atau menyesuaikan bangunan-bangunan lama untuk kebutuhan mereka sendiri.
Penemuan semacam ini mengingatkan kita betapa tipis lapisan tanah yang memisahkan kita dari masa lalu: satu badai atau galian kecil — dan tersingkaplah seluruh lapisan sejarah manusia. Agama di perbatasan kekaisaran bukanlah doktrin yang abstrak, melainkan praktik yang terjalin dalam urusan keamanan, panen, dan keluarga. Setiap batu votif adalah jejak harapan atau ketakutan seseorang yang membeku dalam batu.
Temuan semacam ini mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan apa yang ada di bawah kaki: bahkan di hutan yang sudah dikenal pun bisa tersimpan jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana orang hidup, percaya, dan terus hidup setelah perubahan-perubahan besar.

