Pada Mei 2026, bertepatan dengan ulang tahun kedua puluh pendiriannya, Profesor Yuemin Si, Presiden Eksekutif Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), kembali membahas isu-isu yang mengusik para kritikus universitas yang tidak biasa ini. Di mana pun ia berbicara — di konferensi akademik, dalam wawancara, atau dalam publikasi — Si menegaskan satu hal: universitas ini tidak meniru model pendidikan Barat maupun Timur, melainkan secara sadar mensintesis keduanya.
Sejarah XJTLU dimulai pada tahun 2004, ketika Xi'an Jiaotong University dan University of Liverpool sepakat untuk mendirikan universitas patungan jenis baru. Secara resmi, institusi ini membuka pintunya pada Mei 2006 di Suzhou, Jiangsu, dengan angkatan pertama yang terdiri dari 164 mahasiswa. Dalam dua dekade, universitas ini telah berkembang menjadi usaha patungan terbesar di Tiongkok dengan lebih dari 26 ribu mahasiswa — kini bukan lagi proyek eksperimental, melainkan lembaga pendidikan yang diakui dengan pengaruh internasional.
Inti dari model hibrida ini terletak pada mekanisme pembelajaran «bolak-balik». Pada tahap pertama, mahasiswa menguasai disiplin yang ketat, pemikiran logis, dan tanggung jawab kolektif, yang diwarisi dari tradisi pedagogi Tiongkok. Kemudian, mereka beralih ke analisis kritis, penelitian mandiri, dan debat kelompok kecil — metode yang dipinjam dari sistem Inggris. Kualitas dikontrol oleh kunjungan rutin dari dosen University of Liverpool, yang meninjau materi ujian dan standar pengajaran; jika perlu, pakar independen dari universitas lain dilibatkan.
Angka-angka yang disajikan oleh administrasi sangat mengesankan: menurut survei internal tahun 2025, 98% pemberi kerja lulusan XJTLU menyatakan kepuasan atas persiapan mereka; 83% lulusan dari Tiongkok yang melanjutkan studi di luar negeri diterima di 50 universitas terkemuka di dunia. Namun, para pengembang universitas sendiri mengakui dengan jujur: indikator-indikator ini didasarkan pada penelitian mereka sendiri dan belum diverifikasi secara independen dalam jangka panjang. Skeptis menunjukkan peningkatan jumlah kelompok belajar, kemungkinan peningkatan inflasi nilai, dan penyebaran tingkat kemampuan bahasa Inggris di antara sebagian mahasiswa. Profesor Si sendiri tidak menyembunyikan bahwa konflik adalah harga yang tak terhindarkan ketika dua sistem pengambilan keputusan dan budaya pendidikan bertemu.
Masalah yang mendasari perdebatan lokal ini jauh lebih dalam: pendidikan tinggi Tiongkok tetap relatif tertutup terhadap pengaruh luar, dan kampus patungan dapat menjadi jembatan antarbudaya, tetapi sering kali justru mereproduksi hierarki lama alih-alih pertukaran yang otentik. Skalabilitas model semacam itu membutuhkan waktu, kesiapan kedua belah pihak untuk saling belajar, dan pengakuan atas perbedaan, bukan sekadar memindahkan praktik dari satu konteks ke konteks lain.
Apa yang akan terjadi jika universitas hibrida tidak lagi dianggap sebagai eksperimen berani dan mulai dianggap sebagai norma bagi sistem pendidikan tinggi nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan tidak hanya nasib XJTLU, tetapi juga kemungkinan dialog global yang otentik dalam pendidikan.



