❓PERTANYAAN:
Lee, nasib apa yang menanti bahasa berbagai bangsa sehubungan dengan transformasi kesadaran? Akankah bahasa menjadi rudimen dan digantikan oleh telepati? Atau akankah bahasa berubah untuk mencerminkan realitas transisi saat ini? Akankah muncul, seperti kamus Anda, kamus 5D, di mana kata-katanya lama, tetapi maknanya baru? Toh, semua bahasa dibangun di atas persepsi linier: masa lalu, sekarang, masa depan. Padahal persepsi telah bergeser dan terus bergeser.
❗️JAWABAN lee:
Nah, pertama-tama, bahasa memang akan mendapatkan makna yang lebih luas. Tetapi pertama-tama kita akan melepaskan keterikatan pada "penggunaan yang benar".
Anda tahu, hari ini tema bahasa memiliki banyak nuansa politik dan cara untuk manipulasi (bahasaku lebih benar daripada bahasamu). Sementara secara historis bahasa selalu berkembang dan berubah sendiri – tidak masuk akal untuk berpegang pada "kebenaran akademis". Sejarah itu sendiri menunjukkan bahwa semua bahasa bertransformasi di bawah kesadaran penuturnya.
Ini adalah jalan yang panjang, tetapi akan dilalui – semua bahasa pada umumnya akan melebur menjadi satu dasar, yang kemudian akan beralih ke tahap "bahasa cahaya" umum. Di dalamnya tidak ada terjemahan linier harfiah – ada konsep multidimensi yang terkandung di dalamnya. Ini, ngomong-ngomong, ditangkap dengan baik oleh film "Arrival" – makna bahasa, yang mengubah kesadaran dan karakteristik ruang-waktu.
Dan di sekitar tahap inilah interaksi telepati akan terjadi. Telepati itu sendiri bukanlah "kualitas psikis", tetapi cara untuk menerima orang lain sebagaimana adanya diri sendiri. Ketika "aku dan kamu adalah Satu" menjadi inti dari komunikasi, maka akan tiba saatnya untuk "telepati organik".
Tetapi bahkan dalam periode ini, akan tetap ada ruang untuk seni dan kreativitas – bahasa sebagai suara yang terdengar oleh telinga akan memiliki "nilai budaya" untuk waktu yang cukup lama.



