Di Oman, tempat identitas budaya erat terkait dengan sejarah, tradisi keluarga, dan warisan nasional, seni menjadi ruang di mana perempuan tidak hanya melestarikan citra-citra yang sudah lazim, tetapi juga menentukan pembacaan kontemporernya. Pandangan mereka terhadap pakaian tradisional, perhiasan, keibuan, dan kehidupan sehari-hari memungkinkan warisan dilihat bukan sebagai kenangan masa lalu yang tak berubah, melainkan sebagai bagian dari budaya yang terus berkembang. Proses ini terungkap dalam pameran Jawahir Fanniya (“Permata Seni”), yang dibuka pada 20 Oktober di Muskat menjelang Hari Perempuan Oman.
Diselenggarakan dengan partisipasi Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pemuda Oman serta Perhimpunan Seni Rupa Oman, pameran ini menyatukan 65 seniman perempuan dan 70 karya. Lukisan, fotografi, seni digital, patung, dan keramik menyentuh simbol-simbol nasional melalui pengalaman pribadi para penciptanya. Judul pameran itu sendiri menawarkan pembacaan ganda: permata di sini bukan hanya perhiasan, tetapi juga perempuan — pembawa memori budaya dan partisipan mandiri dalam pembentukan identitas negara.
Dari Penjaga Tradisi menuju Sudut Pandang Kreatif
Dalam banyak budaya, pewarisan warisan secara tradisional dikaitkan dengan perempuan — melalui pakaian, adat keluarga, kerajinan, dan pengasuhan anak. Namun, dalam pameran ini peran tersebut tidak terbatas pada pelestarian bentuk-bentuk yang sudah mapan. Para seniman perempuan sendiri memilih kisah apa yang hendak diceritakan, simbol apa yang hendak ditonjolkan, dan bagaimana citra budaya yang akrab diterjemahkan ke dalam bahasa seni kontemporer.
Pendekatan semacam ini memungkinkan pembicaraan tentang perubahan tanpa pertentangan artifisial antara tradisi dan kemodernan. Warisan nasional di sini tidak ditolak dan tidak diubah menjadi latar dekoratif: ia menjadi bahan bagi pernyataan pribadi. Melalui citra-citra yang akrab, para seniman perempuan menelusuri martabat, kekuatan, keibuan, individualitas perempuan, dan keterkaitan antargenerasi — tema-tema yang melampaui konteks nasional dan dapat dipahami oleh audiens internasional.
Dalam lukisan Nura binti Yunus Al-Balushi “Keaslian Oman”, busana tradisional perempuan menempati posisi sentral. Pakaian tampil bukan sekadar sebagai tanda keanggotaan dalam budaya, tetapi juga sebagai citra ekspresif kesinambungannya. Dalam karya-karya lain, elemen kostum dan perhiasan yang akrab memperoleh makna baru berkat pendekatan artistik yang individual.
Keibuan, Kekuatan, dan Kehidupan Sehari-hari
Beberapa karya mengungkap identitas budaya melalui hubungan keluarga dan pengalaman perempuan. Fotografi Ibtisam Al-Amri, yang ditampilkan dalam rangka festival “Malam Muskat”, menyampaikan kehangatan ikatan antara ibu dan anak-anak. Busana tradisional yang dijahit dengan tangan menegaskan keterkaitan antargenerasi dan melestarikan memori praktik budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Karya keramik Amal Al-Ghafri didedikasikan pada citra ibu Oman dan pakaian tradisional lisu. Seniman perempuan ini memindahkan motif khas kain ke dalam elemen dekoratif yang mengingatkan pada cincin, gelang, dan kalung. Dalam komposisi ini, kasih sayang keibuan berpadu dengan plastisitas keramik yang ekspresif: kelembutan citra berdampingan dengan tonjolan tajam yang melambangkan keteguhan dan kemampuan mengatasi kesulitan.
Fotografi Hind Al-Jassasi “Kekuatan dan Keindahan” menampilkan seorang perempuan dalam gaun tradisional Oman, perhiasan perak, dan hina di tangannya. Ia memegang senjata tradisional, dan sikap tubuhnya yang percaya diri menegaskan martabat serta kekuatan. Bejana-bejana tembaga yang diletakkan di dekatnya merujuk pada tatanan rumah tangga dan kehidupan keluarga. Citra ini menyatukan beberapa sisi pengalaman perempuan tanpa mereduksi sang tokoh menjadi satu peran saja.
Dalam lukisan Maiya Al-Harti, sang tokoh muncul di gurun malam di antara bintang-bintang dan meteor yang jatuh. Perhiasan Badui, hina, dan detail kostum tradisional berpadu dengan citra legenda kuno dan nuansa misterius. Memori budaya di sini menjadi landasan imajinasi artistik yang melampaui penggambaran tradisi secara literal.
Perhiasan Tradisional — Makna Baru
Perhatian khusus tertuju pada karya digital Laura Al-Siyabi yang didedikasikan pada gelang Oman bengari. Seniman perempuan ini memaknai ulang bentuk tradisional untuk perempuan modern: konstruksi emas yang tak bergerak melambangkan keteguhan, sedangkan cincin pusat yang berputar melambangkan gerak, perubahan, dan peluang yang terbuka. Perhiasan yang akrab menjadi citra keterkaitan antara akar budaya dan masa depan.
Prinsip ini menyatukan banyak karya dalam pameran. Para seniman perempuan tidak sekadar mereproduksi ornamen dan citra lama, tetapi menemukan kandungan yang aktual di dalamnya. Tradisi tetap bernilai bukan karena ia tetap tidak berubah, melainkan karena ia terus hidup dalam interpretasi-interpretasi baru.
Seni dan Citra Masa Depan Negara
Jawahir Fanniya mengajak kita meninjau peran perempuan dalam kehidupan budaya Oman secara lebih luas daripada sekadar melalui tema pelestarian warisan nasional. Pameran ini menampilkan mereka sebagai para pencipta yang mampu menafsirkan simbol-simbol budaya secara mandiri dan turut serta dalam membentuk cara negara mempresentasikan dirinya hari ini. Dalam pengertian ini, pernyataan artistik personal menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih luas tentang kesinambungan, keunikan jati diri, dan perubahan di dalam masyarakat.
Pada saat yang sama, penyajian pameran ini tidak dibangun atas penolakan terhadap tradisi atau atas deklarasi-deklarasi yang lantang. Daya ungkapnya terletak pada pergeseran penekanan secara bertahap: dari perempuan sebagai penjaga warisan menuju perempuan sebagai penafsirnya dan pencipta makna-makna baru. Budaya nasional tampil bukan sebagai citra masa lalu yang membeku, melainkan sebagai proses yang hidup, di mana generasi berikutnya dapat mengenali akar mereka dan sekaligus menemukan suara mereka sendiri.




