Di tengah mencairnya es Arktik yang pesat, para ilmuwan tidak mengirimkan ekspedisi biasa, melainkan seluruh stasiun penelitian terapung — sebuah mahakarya rekayasa yang mampu mengikuti lapisan es selama bertahun-tahun dan merekam perubahannya secara real-time. Ini adalah kisah tentang bagaimana sains berpacu dengan waktu di salah satu tempat paling keras di planet ini.
Tara Polar Station, gagasan para insinyur Prancis dan arsitek Olivier Petit, dibangun di Cherbourg dan diluncurkan dari pelabuhan Lorient, menyerupai igloo raksasa di atas pelampung. Lambungnya yang terbuat dari lembaran aluminium setebal dua sentimeter, sepanjang 26 meter dan lebar 16 meter, memiliki berat sekitar 416 ton dalam muatan penuh dan dirancang untuk menahan tekanan es Arktik serta suhu hingga minus 52 derajat Celsius. Bentuk ovalnya bukan kebetulan desain: ini memungkinkan stasiun untuk secara otomatis mengapung di bawah tekanan es, seperti kapal, alih-alih tenggelam di bawah bebannya. Konstruksi ini memberikan stasiun kebebasan untuk hanyut bersama banquise (lapisan es laut), memungkinkan pengumpulan data di tempat-tempat yang sebelumnya hanya dapat dijangkau melalui ekspedisi singkat di musim panas.
Proyek ini menyatukan lebih dari tiga puluh pusat penelitian dari dua belas negara di bawah pimpinan Tara Ocean Foundation. Selama sepuluh ekspedisi yang direncanakan hingga tahun 2045, stasiun akan menghabiskan 90 persen waktunya membeku di dalam es, hanyut dengan kecepatan rata-rata sekitar sepuluh kilometer per hari. Setiap ekspedisi berlangsung selama 18 bulan, di mana sekitar 14 bulan dialokasikan untuk hanyutan aktif. Misi pertama bertujuan untuk mencapai Selat Fram antara Greenland dan Spitsbergen pada akhir tahun 2027, melintasi salah satu wilayah planet kita yang paling sedikit dipelajari.
Di dalamnya terdapat lima laboratorium yang berfungsi penuh, drone, kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh, moon pool berdiameter 1,6 meter untuk pengambilan sampel dari kedalaman hingga dua kilometer, dan sensor untuk menganalisis air, atmosfer, dan es. Para ilmuwan bermaksud mengumpulkan lebih dari sepuluh ribu sampel untuk memahami bagaimana organisme beradaptasi dengan malam kutub yang panjang, perubahan suhu yang drastis, dan lapisan es yang berubah. Arktik memanas tiga hingga empat kali lebih cepat daripada sisa planet — proses ini disebut penguatan Arktik, dan setiap ton karbon dioksida yang dikeluarkan menghancurkan tiga meter persegi es. Menurut para peserta, bagian tengah Samudra Arktik tetap menjadi salah satu wilayah yang paling sedikit dipelajari di planet ini, terutama selama kegelapan musim dingin kutub.
Kehidupan kru membutuhkan seleksi khusus: dua belas orang di musim dingin (empat pelaut, enam ilmuwan, seorang jurnalis, dan seorang dokter) dan hingga delapan belas orang di musim panas (peneliti tambahan, pemandu kutub, dan seorang seniman) melibatkan cobaan berat — lima bulan kegelapan total, suhu dari minus dua puluh hingga minus 52 derajat, dan pertemuan dengan beruang kutub. Peserta dipilih berdasarkan hasil tes medis dan psikologis, dengan prinsip seleksi yang mirip dengan kriteria untuk kosmonot ISS. Untuk perlindungan, disediakan anjing Lapland yang terlatih khusus, yang mampu mendeteksi pendekatan beruang. Setiap anggota kru telah menerima pelatihan dalam penggunaan senjata api — bukan untuk menyerang, tetapi semata-mata untuk pertahanan diri di atas es.
Stasiun ini sepenuhnya mandiri: ia beroperasi menggunakan sumber energi terbarukan — turbin angin, panel surya, dan biofuel generasi ketiga. Ia dapat hanyut hingga 500 hari tanpa pengisian ulang persediaan. Desainnya dibuat untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan: sistem pemantauan sangat otomatis dan non-invasif, memungkinkan pengamatan proses alam dengan campur tangan minimal.
Data yang diperoleh selama misi akan membantu menyempurnakan model iklim untuk perkiraan tahun 2050 dan mengidentifikasi mekanisme pemanasan. Arktik, menurut ungkapan penyelenggara, berfungsi sebagai indikator unik perubahan global, dan dokumentasi keanekaragaman hayatinya tepat waktu adalah perlombaan melawan waktu. Para ilmuwan khawatir bahwa beberapa spesies dan proses ekologis mungkin punah sebelum sempat dipelajari. Pengamatan jangka panjang terhadap es yang hanyut memberikan kesempatan untuk mendeteksi pergeseran kritis dalam ekosistem kutub pada waktunya dan mengoreksi pendekatan global untuk perlindungan lautan — ini bukan lagi sekadar sains, ini adalah penyelamatan.


