Di hutan Suaka Buxa di Benggala Barat, setelah lama sunyi, auman harimau akan kembali terdengar. Pada 2 Oktober 2026, seekor harimau betina berusia tiga tahun, T138, dari Suaka Valmiki di Bihar dilepasliarkan ke sana — ini adalah kasus reintroduksi pertama dalam beberapa dekade di wilayah yang sudah bertahun-tahun tidak memiliki populasi yang stabil.
Pemilihan sumbernya bukan tanpa alasan: Valmiki dan Buxa dipisahkan oleh lanskap terai yang serupa — dataran rendah berawa di kaki Pegunungan Himalaya dengan rumput lebat dan hutan. Di Valmiki, jumlah harimau meningkat dari delapan ekor pada 2010 menjadi 54 menurut sensus terakhir, sehingga memungkinkan pemilihan hewan untuk direlokasi tanpa merusak populasi asal.
Harimau betina itu mula-mula ditempatkan dalam pelepasan lunak — di kawasan berpagar seluas sekitar 2,3 hektare, agar ia terbiasa dengan lingkungan baru. Di lehernya terpasang kalung satelit untuk pemantauan terus-menerus: para ahli akan melacak pergerakan, perilaku, dan adaptasinya dengan bantuan telemetri dan kamera jebak. Direncanakan untuk melepas dua hingga tiga harimau lagi dalam beberapa bulan mendatang, guna menciptakan dasar bagi kelompok yang mampu berkembang biak sendiri.
Namun, keberhasilan tidak hanya bergantung pada jumlah hewan. Di Buxa masih terdapat tantangan serius: basis pakan yang terbatas, fragmentasi habitat, dan keberadaan desa di zona inti suaka. Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan hektare padang rumput di sini telah dipulihkan dan lebih dari 800 hewan berkuku dilepas untuk meningkatkan mangsa, tetapi para pakar mencatat bahwa langkah-langkah ini mungkin tidak cukup tanpa pengurangan tekanan antropogenik lebih lanjut.
Proyek ini merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas: Buxa menghubungkan hutan Assam, Bhutan, dan Benggala utara, menciptakan koridor potensial untuk migrasi. Kembalinya harimau tidak hanya mampu memperkuat ekosistem setempat, tetapi juga menghidupkan kembali pariwisata di wilayah Duars, tempat hutan, perkebunan teh, dan alam liar secara tradisional berdampingan.
Reintroduksi harimau betina dari Bihar menunjukkan bagaimana upaya terarah untuk merelokasi hewan dari wilayah yang sehat dapat memicu proses pemulihan di lanskap yang kosong — asalkan pelepasan itu diikuti oleh kerja sistematis untuk memperbaiki habitat dan mengurangi konflik dengan manusia.


