Di Turki selatan, para arkeolog menemukan lima roti hangus dari abad VII–VIII, salah satunya memuat tulisan Yunani dan gambar Yesus. Temuan ini dibuat pada tahun 2025 di lokasi kota kuno Eirenopolis (kini Topraktepe di distrik Ermenek, Provinsi Karaman) dan langsung menarik perhatian para ahli budaya Bizantium awal.
Roti-roti itu terawetkan berkat kebetulan yang langka: kebakaran mendadak mengarbonisasi adonan, merekam bentuk dan detail reliefnya. Menurut para anggota ekspedisi, ini adalah salah satu contoh terbaik yang terawetkan dari jenis serupa di Anatolia. Empat roti dihiasi cap salib — tanda yang menunjukkan kemungkinan penggunaannya sebagai prosfora dalam liturgi Kristen awal.
Perhatian khusus tertuju pada roti kelima. Di atasnya tertera frasa Yunani yang oleh para epigraf diterjemahkan sebagai "Dengan rasa syukur kami kepada Yesus yang Terberkati", dan di sebelahnya terdapat sosok Kristus, yang digambarkan bukan sebagai Pantokrator, melainkan sebagai Penabur yang menebarkan benih. Tipe ikonografi seperti ini merujuk pada perumpamaan Injil tentang penabur dan menegaskan kaitan rahmat ilahi dengan kerja manusia di bumi.
Penggunaan bahasa Yunani — bahasa resmi dan liturgis Kekaisaran Bizantium — menegaskan betapa dalamnya tradisi Helenistik-Kristen berakar dalam komunitas pedesaan Anatolia. Tulisan itu kemungkinan berfungsi sebagai ungkapan syukur atau doa, mengubah roti biasa menjadi pembawa makna spiritual.
Para peneliti mencatat bahwa artefak semacam ini jarang ditemukan: prosfora dari abad VII–VIII yang masih terawetkan memungkinkan kita menyelami praktik keagamaan sehari-hari, ketika iman terjalin dalam siklus menanam dan menuai. Gambar Kristus sebagai petani mengingatkan betapa eratnya teologi dan kehidupan agraris terjalin pada masa itu.
Temuan di Topraktepe melengkapi gambaran Anatolia Bizantium, tempat bahasa Yunani, simbolisme Ortodoks, dan kebutuhan pedesaan yang sederhana membentuk satu kesatuan. Temuan ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai spiritual terwujud dalam benda-benda paling biasa — roti, yang memberi makan sekaligus mengingatkan akan yang ilahi.
Penemuan semacam ini membantu kita lebih memahami betapa dalamnya iman meresap ke dalam budaya material komunitas Bizantium awal, menjadikan kerja sehari-hari bagian dari tatanan yang sakral.
