Dalam beberapa tahun terakhir, psikolog kognitif Donald Hoffman, yang dikenal dengan ide-ide beraninya tentang sifat persepsi, kembali menarik perhatian komunitas ilmiah. Profesor emeritus di University of California, Irvine, penulis banyak karya tentang persepsi visual dan psikologi evolusioner, bersama dengan neurokimiawan Andrew Gallimore, mengusulkan sebuah hipotesis yang dapat membalikkan pemahaman konvensional tentang kesadaran dan realitas.
Menurut pendekatan mereka, zat seperti DMT (dimetiltriptamin) tidak hanya menyebabkan halusinasi, tetapi juga sementara mengubah "headset ruang-waktu" kita—sejenis antarmuka persepsi yang digunakan otak untuk membangun realitas sehari-hari. Akibat dari pergeseran ini, klaim para ilmuwan, menjadi mungkin untuk "melihat" agen-agen sadar yang dalam keadaan normal tetap berada di luar medan sensorik kita. Ini bukan mistisisme, melainkan hipotesis ilmiah yang dapat diuji.
Hoffman telah lama mengembangkan teori bahwa evolusi tidak mengatur persepsi kita untuk mencerminkan realitas objektif secara akurat, melainkan untuk kelangsungan hidup. Kita tidak melihat dunia "sebagaimana adanya", melainkan model yang disederhanakan—semacam desktop komputer, di mana ikon menyembunyikan proses yang kompleks. Pidato TED-nya yang terkenal lebih dari sepuluh tahun yang lalu meletakkan dasar bagi ide-ide ini: pohon, langit, bahkan tubuh kita adalah simbol yang nyaman, bukan kebenaran fundamental. Kini, para peneliti melangkah lebih jauh, berspekulasi bahwa zat psikoaktif tertentu dapat menonaktifkan atau mengonfigurasi ulang antarmuka ini untuk sementara.
Diskusi antara Hoffman dan Gallimore dalam kerangka Trace Institute merupakan langkah penting dalam pengembangan topik ini. Para ilmuwan membahas bagaimana DMT dapat membuka akses ke bentuk kesadaran lain yang ada secara independen dari ruang-waktu kita yang biasa. Ini bukan klaim tentang "realitas" entitas dalam arti harfiah, melainkan proposal untuk menguji hipotesis: jika agen semacam itu ada, interaksi mereka harus dapat dipelajari secara ilmiah—melalui eksperimen terkontrol, neuroimaging, dan analisis komparatif laporan.
Minat terhadap pertanyaan semacam itu semakin meningkat. Budaya tradisional telah lama menggambarkan pertemuan dengan "roh penolong" selama ritual, dan penelitian modern tentang psikedelik menunjukkan pola pengalaman yang konsisten. Namun, Hoffman dan Gallimore menekankan perlunya pendekatan ilmiah yang ketat: tanpa spekulasi, hanya prediksi yang dapat diuji. Karya mereka beresonansi dengan penelitian kesadaran, yang melibatkan nama-nama seperti Karl Friston, yang mempelajari prinsip-prinsip energi bebas dan inferensi Bayesian di otak.
Meskipun hipotesis tersebut masih dalam tahap proposal, ia sudah memicu diskusi di kalangan neurosaintis, filsuf, dan antropolog. Jika terbukti benar, ini dapat secara radikal mengubah pemahaman tidak hanya tentang psikedelik, tetapi juga tentang sifat kesadaran itu sendiri: mungkin kita bukanlah pengamat yang terisolasi di alam semesta mekanis, melainkan bagian dari jaringan proses sadar yang lebih luas.
Perkembangan peristiwa menjanjikan akan menarik. Langkah selanjutnya adalah merencanakan eksperimen yang akan memungkinkan pembedaan artefak neurokimia dari sinyal yang berpotensi nyata dari luar. Sains bergerak perlahan namun pasti ke tempat yang sebelumnya hanya didominasi oleh legenda dan pengalaman pribadi. Apakah DMT akan menjadi kunci menuju cakrawala pengetahuan baru—waktu dan verifikasi yang cermat akan menunjukkannya.


