Jagung manis bakar yang baru diangkat dari api dilapisi tipis dengan mayones dan krim asam, kemudian ditaburi sedikit chaat masala — campuran mangga kering, garam hitam, dan jintan. Setiap gigitan menghadirkan perpaduan rasa biji jagung manis panggang, kesegaran asam, dan kedalaman asin yang membuat tangan Anda ingin meraih jagung berikutnya.

Chaat masala berasal dari jalanan India, di mana pedagang kaki lima menambahkannya pada saat-saat terakhir untuk mengembalikan cita rasa makanan yang sudah dingin. Di Meksiko, teknik serupa digunakan untuk elotes — jagung dibalut dengan mayones, keju, dan cabai. Ottolenghi menggabungkan dua tradisi ini dalam satu wajan, menambahkan biji jagung renyah untuk tekstur yang mencegah hidangan melebur menjadi satu massa yang seragam.

Ottolenghi sendiri mengenang bagaimana ia pernah berlari mengejar truk ubi jalar panggang di Tokyo, dan di Penang ia mengamati seorang koki yang mengolah wajan di atas api yang terlalu besar. Pemandangan makanan jalanan ini, di mana satu hidangan disiapkan di depan umum, menjadi titik acuannya. Di dapur London-nya, ia mereplikasi kecepatan dan spontanitas yang sama, namun kali ini untuk hidangan rumahan.
Jagung di sini bukan sekadar lauk. Rasa manisnya, yang diperkuat dengan sedikit pemanggangan, membutuhkan kontras asam dan asin yang hanya bisa diberikan oleh chaat masala. Pindahkan resep ini ke negara lain — dan titik keseimbangan yang ditemukan Ottolenghi, dengan menggabungkan dua benua dalam satu hidangan, akan hilang.
Saat ini, resep tersebut hidup di antara tradisi dan kenyamanan: 30 menit di wajan alih-alih di panggangan jalanan, namun dengan sensasi yang sama bahwa makanan baru saja disiapkan dan hanya untuk Anda. Ekonomi perdagangan jalanan berubah, tetapi versi rumahan dari hidangan semacam itu memungkinkan untuk mempertahankan rasa tanpa antrean dan tanpa kehilangan kesegaran bahan.
Hidangan ini paling baik disiapkan di puncak musim jagung, ketika tongkol jagung masih penuh dengan sari. Sajikan segera selagi hangat, dan sediakan serbet di dekatnya — layaknya di warung kaki lima sungguhan.
Dalam kombinasi sederhana antara biji jagung dan rempah-rempah ini, terungkap mengapa beberapa rasa tetap terikat pada momen dan tempat tertentu: mereka lahir dari pertemuan berbagai tradisi jalanan yang tidak dapat direplikasi secara terpisah.

