Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang memikirkan kedalaman sejarah Bumi. Planet yang kita tinggali telah ada selama sekitar 4,5 miliar tahun, sementara manusia modern baru muncul relatif baru — kurang dari 5 juta tahun yang lalu. Ini berarti 99,9% sejarah Bumi telah berlalu tanpa kehadiran kita. Apa yang terjadi di masa lampau yang jauh itu? Fisikawan astrofisika Avi Loeb, yang dikenal karena karyanya dalam pencarian artefak luar angkasa, menawarkan perspektif menarik mengenai pertanyaan ini.
Loeb memberikan contoh sederhana namun gamblang dari kehidupannya sendiri. Beberapa tahun lalu, seorang asing berdiri di dekat rumahnya untuk waktu yang lama. Ternyata, saat masa kecil, ia pernah tinggal di sana. Tamu tersebut bercerita tentang seekor kucing bernama Tiger yang dikubur di kebun — dan memang benar, di bawah batu dengan tulisan tersebut dulunya terkubur hewan peliharaan kesayangan. Kisah ini menunjukkan bagaimana 'tamu' dapat mengungkap apa yang tetap tersembunyi bagi penghuni saat ini. Secara analogi, umat manusia mungkin merupakan 'penghuni' Bumi yang relatif baru.
Sekitar 201 juta tahun yang lalu, ketika usia Bumi baru mencapai 95,6% dari usia saat ini, planet ini mengalami pemanasan global yang drastis. Suhu meningkat 4–15 derajat Kelvin, yang menyebabkan kepunahan massal: hingga 95% spesies tumbuhan, sebagian besar organisme laut dan darat terkena dampaknya. Peristiwa ini, yang dikenal sebagai kepunahan Trias-Jura, membuka jalan bagi dominasi dinosaurus. Loeb bertanya-tanya: mungkinkah perubahan skala besar ini tidak hanya terkait dengan proses alam, tetapi juga dengan aktivitas peradaban hipotetis yang maju secara teknologi?
Tentu saja, tidak ada bukti langsung. Proses geologis — seperti pergeseran lempeng tektonik, pelapukan, subduksi, dan tumbukan meteor — selama ratusan juta tahun dapat sepenuhnya menghancurkan jejak infrastruktur darat apa pun. Hal ini sejalan dengan 'Hipotesis Siluria' dari Gavin Schmidt dan Adam Frank. Namun, di luar angkasa, peluang pelestarian lebih besar. Satelit pasif di ketinggian lebih dari 2000 km dapat bertahan selama ratusan juta tahun, hampir tanpa mengalami gesekan atmosfer. Wahana aktif, yang dapat memperbaiki diri atau bereproduksi sendiri — bahkan lebih lama lagi.
Dalam konteks ini, Loeb mengalihkan perhatiannya pada Fenomena Udara Tak Dikenal (UAP). Sebagian besar kasus dapat dijelaskan oleh penyebab alami atau teknologi manusia, tetapi sebagian tetap tidak dapat dijelaskan. Hipotesis bahwa beberapa UAP mungkin merupakan peninggalan peradaban Bumi kuno sebelum manusia, baginya tampak lebih mungkin daripada kunjungan dari sistem bintang lain: hal ini tidak memerlukan penjelajahan jarak antarbintang yang sangat jauh selama miliaran tahun. Cukup dengan teknologi yang mampu berfungsi di dekat planet layak huni selama beberapa ratus juta tahun.
Perspektif semacam itu mengubah fokus penelitian. Proyek-proyek seperti Galileo Project di bawah kepemimpinan Loeb dan UAP Science Advisory Council, berfokus pada pengumpulan data yang andal. Jika UAP ternyata buatan manusia, itu adalah kontribusi terhadap keamanan nasional. Jika mereka terkait dengan peradaban kuno Bumi, kita akan belajar lebih banyak tentang sejarah panjang planet kita. Dan jika ternyata berasal dari luar angkasa, itu akan memperluas pemahaman kita tentang alam semesta.
Refleksi Loeb mengingatkan kita bahwa sains bukan hanya tentang fakta yang sudah mapan, tetapi juga kesiapan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit. Bumi menyimpan banyak misteri, dan alat pengamatan baru seiring waktu dapat membantu menyingkap tabir apa yang terjadi di sini jauh sebelum manusia muncul. Untuk saat ini, penting untuk terus mengamati, menganalisis, dan tetap terbuka terhadap kesimpulan yang tak terduga namun beralasan.



