Di celah-celah curam perbukitan Jatinga, dalam mikrokosmos lembap yang teduh, para ahli botani menemukan bukti hidup dari sebuah keajaiban: sebuah tanaman yang dianggap telah hilang oleh para ilmuwan hampir dua abad yang lalu. Tanaman berbunga langka, Rungia mastersii, telah kembali ke tangan ilmu pengetahuan – di satu-satunya tempat di Bumi tempat ia diketahui keberadaannya. Terakhir kali terlihat pada tahun 1845, ketika ahli botani Inggris J.W. Masters mengumpulkan satu-satunya spesimen di tepi Sungai Sundar di Assam. Kini, setelah 181 tahun sunyi, spesies ini mengingatkan kita betapa banyaknya kehidupan yang tetap tak terlihat sampai seseorang melihat ke tempat yang tepat.
Penemuan kembali ini terjadi di perbukitan Jatinga, Distrik Dima-Hasao (salah satu dari tiga distrik perbukitan di Assam, yang dikenal dengan flora botani yang kaya dan medan berbatu). Peneliti Kangkan Kumar Das dan Profesor Debjyoti Bhattacharjya dari Universitas Assam menemukan populasi tanaman tersebut selama survei lapangan di celah-celah batu di dekat anak sungai, pada ketinggian antara 900 hingga 1250 meter di atas permukaan laut.
Spesies ini mengagumkan dalam kesederhanaan dan keindahannya. Ini adalah semak kecil yang tingginya berkisar antara 60 hingga 110 sentimeter, termasuk dalam keluarga Acanthaceae (genus Rungia). Bunganya – berwarna hijau pucat atau keputihan dengan pola ungu halus – hampir tidak terlihat, tetapi sempurna dalam kehalusannya. Namun yang paling mengejutkan adalah: sejauh ini hanya diketahui satu populasi tunggal, yang terdiri dari sekitar empat puluh individu. Ini berarti seluruh stok spesies di dunia secara harfiah dapat dihitung dengan jari.
Sejarah tanaman ini sebagian mencerminkan sejarah seluruh genus Rungia, yang mencakup 88 spesies yang tersebar di Afrika tropis, Asia tropis dan subtropis, serta Semenanjung Arab. Empat spesies Rungia tumbuh di Assam itu sendiri, tetapi Rungia mastersii lah yang benar-benar hilang dari pandangan para ahli botani. Spesies ini hanya ada sebagai nama pada selembar herbarium yang menguning dari Dinas Botani India – satu-satunya bukti keberadaannya yang pernah hidup di dunia.
Penemuan tahun 2026, yang diterbitkan secara resmi dalam jurnal internasional terkemuka Feddes Repertorium (publikasi terkemuka dalam taksonomi botani, diterbitkan oleh Wiley VCH sejak 1905), telah mengembalikan spesies ini ke dalam peredaran ilmiah. Namun, penemuan ini sekaligus menyoroti kerentanannya yang ekstrem: area mikroskopis dan jumlah minimal membuat tanaman ini sensitif terhadap perubahan apa pun.
Perubahan terkecil dalam aliran anak sungai, tanah longsor, penebangan hutan yang tidak disengaja, atau bahkan langkah kaki manusia yang ceroboh dapat menyebabkan kepunahannya. Spesies ini belum menerima status konservasi resmi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), namun pengamatan lapangan sangat menunjukkan perlunya tindakan perlindungan segera. Para peneliti menekankan: diperlukan intervensi pemerintah segera, termasuk pemantauan intensif dan program konservasi yang ditargetkan.
Penemuan kembali Rungia mastersii bukan sekadar sensasi botani. Ini adalah pelajaran tentang kerapuhan kehidupan dan tentang batas antara 'punah' dan 'belum ditemukan' yang lebih tipis dari yang terlihat. Di dunia di mana perhatian sering tertuju pada hewan yang mengesankan atau lanskap monumental, penghuni celah batu yang sederhana tetap tak terlihat sampai seseorang melihat tepat di sana. Inilah sebabnya mengapa penemuan seperti ini begitu langka dan begitu berharga – mereka menunjukkan bahwa dengan pencarian yang cermat, bumi dapat mengembalikan apa yang kita anggap hilang selamanya.

