PERTANYAAN:
Lee yang terkasih, Anda sering membahas tentang permainan dari Sang Tunggal menjadi kemajemukan yang menciptakan gagasan tentang kelahiran dan kematian. Jika Jiwa tidak pernah dilahirkan maupun sirna melainkan selalu ada, lantas bagaimana menjelaskan rangkaian kelahiran dan kematian pribadi serta inkarnasi paralelnya secara linear, dan apakah kesadarannya tetap terjaga? Serta apakah ini berarti jumlah kemajemukan tersebut bersifat tetap?
JAWABAN lee:
Waktu memang eksis bagi manusia, namun bagi Sang Tunggal, segalanya adalah sebuah proses yang terjadi 'Di Sini'.
Hal ini jauh lebih mendalam daripada yang terlihat.
Pandanglah seperti ini – setiap titik fisik 'Di Sini' itu eksis SELAMANYA.
Anda berpikir bahwa Anda telah melewati masa kecil, padahal setiap momen masa kecil Anda tetap Ada.
Ini berarti masa lalu tidak pernah lenyap – ia tetap Berada.
Artinya, Jiwa tidak dapat melupakan apa pun karena satu alasan – ia berada tepat 'Di Sini' dalam setiap momen dari seluruh inkarnasi, mulai dari napas pertama hingga terakhir. Semua kehidupan itu hidup selamanya.
Pada saat yang sama, Keberadaan itu hadir justru sebagai sebuah dinamika. Tidak ada yang statis, karena jika tidak, ia akan menghilang.
Hal ini berarti setiap entitas yang 'Ada' secara dinamis mengubah jalinan hubungannya, bukan mengubah eksistensinya.
Apa yang Anda pahami sebagai kehidupan dari satu titik ke titik lainnya adalah perubahan koneksi dari setiap elemen yang 'Ada', yang tercipta oleh lintasan pergerakan Anda.




