«Seberapa dalam cintamu?»: lautan mengajukan pertanyaan kepada umat manusia.

Penulis: Inna Horoshkina One

HOW DEEP IS YOUR LOVE oleh Eleanor Mortimer | Klip | ZFF 2025 | Kompetisi Film Dokumenter

Di layar muncul makhluk kecil berwarna merah muda neon. Ia bergerak perlahan di dasar laut, menyaring sedimen laut dalam melalui tubuhnya, dan tampak sekaligus seperti babi laut, bunga fantastis, dan mainan yang hidup.

Sutradara Элеонор Мортимер menjelaskan bagaimana makhluk laut dalam mengubah pandangannya terhadap samudra.

Para ilmuwan dengan sayang menyebutnya Barbie Pig — «babi Barbie».

Teripang ini belum memiliki nama ilmiah yang pasti. Kita masih hampir tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya, rentang keberadaannya, dan perannya dalam ekosistem laut dalam. Namun kita sudah mempertimbangkan kemungkinan eksploitasi industri atas wilayah yang menjadi rumahnya.

Demikianlah dimulainya salah satu percakapan terpenting tentang laut: seberapa dalam cinta kita pada kehidupan, jika sebagian besar bentuknya bahkan belum sempat kita kenali?

Film dokumenter baru How Deep Is Your Love mengajak kita bukan sekadar menyaksikan makhluk-makhluk di jurang Pasifik. Film ini mengajak kita untuk sejenak meninggalkan sudut pandang yang semata-mata manusiawi dan berjumpa dengan dunia yang telah ada selama jutaan tahun tanpa perhatian kita.

Dua belas hari menuju tepi dunia yang dikenal

Film ini disutradarai oleh sutradara, penulis skenario, dan sinematografer asal Inggris Eleanor Mortimer. Bersama tim ahli biologi laut dalam dari Museum Sejarah Alam London, ia berangkat ke Zona Clarion—Clipperton—wilayah luas Samudra Pasifik antara Hawaii dan Meksiko.

Dari daratan terdekat, kapal penelitian itu terpisah oleh sekitar dua belas hari perjalanan.

Di permukaan, ombak, angin, dan langit silih berganti. Namun tujuan utamanya berada jauh di bawah—di dataran abisal yang tenggelam dalam kegelapan abadi.

Untuk mencapai dasar laut, kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh Isis membutuhkan waktu sekitar lima jam. Robot itu turun hampir lima kilometer, mengirimkan gambar ke pusat penelitian kapal. Di sana para peneliti mengamati monitor, menantikan makhluk-makhluk yang sebelumnya mungkin hanya pernah dilihat oleh beberapa orang—dan kadang tidak pernah dilihat siapa pun.

Menurut perkiraan yang diberikan oleh para pembuat film, manusia secara langsung baru mengamati sekitar 0,001% dasar laut dalam. Karena itu, hampir setiap penyelaman menjadi perjumpaan bukan sekadar dengan seekor hewan tertentu, melainkan dengan bab yang belum dikenal dari sejarah kehidupan di Bumi.

Makhluk-makhluk yang namanya masih harus diberikan

Penghuni jurang tampak seolah-olah alam di sini mengizinkan dirinya melampaui segala bentuk yang kita kenal.

Di dekat Barbie Pig muncul gurita putih hantu Casper. Ia belum memiliki nama Latin resmi. Tubuhnya yang semi-transparan hampir tanpa pigmen — di dunia tanpa cahaya matahari, warna bisa jadi kemewahan yang tak diperlukan.

Di dasar laut bergerak Gummy Squirrel — "marmalade squirrel", holothurian laut dalam Psychropotes semperiana. Di punggungnya menjulang tonjolan seperti layar. Para ilmuwan lama hanya bisa menduga untuk apa ia diperlukan, sampai rekaman laut dalam memungkinkan pengamatan hewan di habitat aslinya.

Holothuria berwarna cerah tertangkap kamera Enypniastes eximia, yang mendapat julukan Monster Ayam Tanpa Kepala — "monster ayam tanpa kepala". Meskipun namanya lucu, hewan yang luar biasa anggun ini mampu bangkit dari dasar dan berenang. Dan saat bahaya, ia menggunakan cara pertahanan yang sangat tak terduga — ia membuang sebagian isi ususnya ke arah penyerang.

Bintang laut rapuh juga hidup di sini Freyella benthophilaIa menempel pada nodul polimetalik dan mengangkat lengan-lengannya yang panjang sepanjang waktu, menangkap partikel "salju laut" — bahan organik yang perlahan turun dari lapisan atas samudra.

Di dekatnya terdapat krinoid tak dikenal — kerabat bintang laut. Secara lahiriah ia menyerupai tumbuhan atau serangga berhias jumbai, tetapi ia adalah hewan. Beberapa bentuk laut dalam tumbuh begitu lambat sehingga usianya dapat diukur dalam ratusan bahkan ribuan tahun.

Di situs resmi film, makhluk-makhluk ini didaftarkan setara dengan manusia — sebagai peserta penuh dalam kisah tersebut. Masing-masing memiliki nama atau julukan, potret, dan deskripsi singkat. Cara seperti ini mengubah optik yang biasa: di hadapan kita bukan lagi "biomassa" tanpa wajah di dasar laut, melainkan sekumpulan cara unik untuk menjadi hidup.

Batu-batu tempat kehidupan dibangun

Dasar zona Clarion — Clipperton tertutup nodul polimetalik — bentukan bulat gelap yang terbentuk sangat lambat, lapis demi lapis.

Nodul-nodul itu mengandung mangan, nikel, tembaga, dan kobalt — logam yang digunakan dalam baterai, elektronik, dan infrastruktur energi. Itulah sebabnya kawasan ini dianggap sebagai salah satu tempat paling menjanjikan untuk penambangan laut dalam di masa depan.

Namun bagi ekosistem, nodul-nodul ini bukanlah endapan bahan mentah.

Di sedimen dasar yang lunak, permukaan keras jarang ditemukan. Pada nodul-nodul melekat spons, koral, lili laut, dan organisme lain. Sebagian hewan menggunakannya sebagai penopang, sebagian lagi menemukan makanan atau tempat berlindung di dekatnya, dan sebagian lain membangun komunitas mikro di sekelilingnya.

Jika nodul diambil, yang hilang bukan hanya batu berisi logam berharga. Permukaan tempat kehidupan terbentuk akan tersingkir. Dan karena bentukan seperti itu tumbuh selama jutaan tahun, struktur yang hilang mustahil dipulihkan dalam skala waktu manusia.

Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority, ISA) telah menciptakan di zona Clarion — Clipperton jaringan 13 kawasan lindung dengan luas total sekitar 1,97 juta kilometer persegi. Namun para ilmuwan terus menegaskan: untuk menilai dampak penambangan, pengetahuan dasar tentang spesies, keterkaitan di antara mereka, dan kecepatan pemulihan ekosistem laut dalam masih sangat kurang.

Ketika pengetahuan ilmiah menuntut sentuhan

Film ini tidak menyembunyikan kontradiksi rumit yang dihadapi para peneliti.

Untuk menentukan spesies baru, satu gambar sering kali tidak cukup. Para ilmuwan perlu meneliti struktur organisme, mengkaji jaringan, memperoleh DNA, dan membandingkan sampel dengan spesies yang sudah dikenal. Untuk itu, hewan tersebut harus diangkat ke permukaan.

Namun makhluk yang beradaptasi dengan tekanan luar biasa, air sedingin es, dan kegelapan total tidak mampu bertahan dalam perjalanan seperti itu.

Muncul pertanyaan yang menyakitkan: bolehkah mengambil satu nyawa untuk memperoleh pengetahuan yang mampu melindungi ribuan nyawa lain?

Pembuat film tidak menawarkan jawaban sederhana. Mereka menampilkan orang-orang yang dengan tulus mengagumi hewan laut dalam sekaligus terpaksa mengambil keputusan ilmiah. Dalam kejujuran inilah perbedaan antara pengetahuan dan penguasaan tampak begitu jelas.

Peneliti mengambil sampel bukan karena kehidupan tidak berarti apa-apa, melainkan karena tanpa deskripsi spesies yang tepat, keberadaannya bisa tetap tak terlihat oleh ilmu pengetahuan, dokumen konservasi, dan keputusan-keputusan di masa depan.

Bahkan setelah sampel diperoleh, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Menurut Eleanor Mortimer, dari penemuan hewan hingga pemberian nama ilmiah resmi, kadang-kadang berlalu hingga empat belas tahun.

Selama itu semua, makhluk tersebut sudah ada — terlepas dari apakah kita sempat memasukkannya ke dalam sistem pengetahuan kita sendiri.

Film yang memberi hak suara kepada jurang tanpa dasar

How Deep Is Your Love Film ini tidak dibangun sebagai film bencana tradisional. Ia tidak berusaha menakuti penonton dengan rentetan ramalan kelam dan tidak mereduksi dunia laut dalam menjadi sekadar argumen dalam perdebatan politik.

Mortimer memilih permainan, puisi, dan absurditas yang lembut.

Hewan-hewan mendapat julukan yang tak terduga. Para ilmuwan bercanda dan mengaku melihat makhluk laut dalam dalam mimpi. Dalam salah satu episode, penghuni jurang seolah meninggalkan samudra: sosok-sosok hantu mereka muncul di koridor Otoritas Dasar Laut Internasional (International Seabed Authority, ISA) dan di jalan-jalan London pada malam hari.

Ini bukan upaya membuat alam menjadi «manusiawi». Lebih tepatnya, sebuah cara untuk mengubah skala persepsi.

Biasanya manusia memandang samudra dari dunianya sendiri — dari pantai, geladak, atau layar. Film ini menawarkan gerakan yang berlawanan: membayangkan bagaimana keputusan-keputusan kita terlihat dari ruang hidup makhluk yang selama jutaan tahun berjalan perlahan di dasar laut, tanpa menyadari keberadaan pasar logam, lisensi industri, dan perundingan internasional.

Mengapa kita membicarakannya sekarang

Film ini sendiri dibuat pada tahun 2025 dan sudah ditayangkan di berbagai festival internasional. Jadi, di hadapan kita bukanlah ekspedisi baru atau laporan tentang penemuan satu spesies tertentu.

Pemicu informasi yang segar adalah perilisan film ini di bioskop-bioskop Britania Raya pada 2 Oktober 2026, yang didahului oleh pemutaran khusus dan pertemuan dengan sang sutradara. Pada 22 September 2026 tentang film ini dan para tokoh laut dalamnya bercerita The Guardian.

Rekaman ilmiah mungkin diambil lebih awal, tetapi perjumpaan masyarakat dengannya terjadi sekarang — pada saat keputusan tentang masa depan penambangan laut dalam masih diperdebatkan.

Film ini mengembalikan ke dalam percakapan tersebut sesuatu yang mudah hilang di antara peta, aturan, dan perhitungan ekonomi: kehidupan itu sendiri, yang sudah ada di dasar laut.

Seberapa dalam cinta kita?

Kita terbiasa menganggap penemuan sebagai momen ketika manusia pertama kali melihat suatu makhluk, memberinya nama, dan menempatkannya dalam klasifikasi ilmiah.

Namun bagi samudra, tidak ada apa pun yang dimulai dari pandangan kita.

Barbie Pig sudah bergerak di dasar laut. Gurita hantu sudah menjelajahi kegelapan. Bintang laut mengangkat lengannya menyongsong arus, dan krinoid purba membuka diri di dalam air jauh sebelum cahaya wahana Isis pertama kali menyorotnya dari jurang.

Mereka tidak menjadi ada karena penemuan kita. Kitalah yang memperluas realitas kita sendiri dengan menyadari kehadiran mereka.

Mungkin kedewasaan umat manusia tidak tampak dalam kemampuan menjangkau kedalaman mana pun dan mengambil segala yang berharga darinya. Kedewasaan itu dimulai dari pertanyaan lain: dapatkah kita menyambut bentuk kehidupan yang tak dikenal dan mengakui nilainya bahkan sebelum kita menentukan apa manfaatnya bagi kita?

Kita menyelam ke dalam jurang untuk menemukan kehidupan yang tak dikenal — dan tanpa diduga menemukan sesuatu dalam diri kita sendiri.
Kemampuan mencintai dunia bukan karena manfaatnya, melainkan karena keajaiban keberadaannya yang tak berujung.

Penemuan sejati terjadi bukan ketika kita memberi nama kepada makhluk yang tak dikenal, melainkan ketika kita mengakui haknya untuk menjadi dirinya sendiri.
Dan pada saat itulah kedalaman samudra menjadi kedalaman kesadaran kita sendiri.

15 Tampilan

Komentar

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.