Di perairan tawar di seluruh dunia mengapung cakram-cakram hijau mungil duckweed — salah satu tanaman berbunga terkecil di Bumi. Masing-masing hanya berukuran beberapa milimeter, tetapi di dalamnya tetap mempertahankan rencana dasar susunan tunas yang menjadi ciri tanaman herba yang jauh lebih besar. Bagaimana hal itu mungkin, diungkap para peneliti Universitas Nottingham. Karya mereka, yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026 di jurnal Current Biology, menunjukkan: duckweed tidak kehilangan detail konstruksinya, melainkan memadatkannya dan menyatukannya menjadi satu kesatuan.
Kerabat terdekat duckweed — anggota famili araceae — mencakup beberapa tanaman herba terbesar di dunia. Lama sekali kemungilan duckweed dianggap sebagai tanda keprimitifan atau penyederhanaan. Namun mikroskopi dan analisis ekspresi gen menunjukkan sebaliknya: struktur utama tunas tidak hilang, hanya saja tersusun rapat dan sebagian menyatu. Zona mirip daun dan zona batang dalam tubuh duckweed ternyata merupakan organ hibrida, tempat batang dan daun melebur menjadi satu.
Pemimpin penelitian, Dr. Anthony Bishopp, menjelaskan inti temuan itu demikian: tanaman menempuh jalan pemadatan, bukan penolakan terhadap detail. Pada hewan, pengecilan ukuran sering kali berjalan seiring hilangnya organ: pada katak mungil paru-paru tereduksi, sedangkan pada tardigrada segmen tubuhnya hilang. Pada duckweed, "cetak biru" tetap utuh, hanya dalam bentuk yang sangat padat. Menurut Bishopp, tim terkejut karena setelah diteliti dengan saksama, organisasi dasar tunas ternyata masih ada. Jalan seperti ini membuka pandangan baru tentang bagaimana tanaman berevolusi menuju ukuran kecil.
Satu catatan penting: penelitian ini menyangkut duckweed yang berakar. Pada kerabat yang bahkan lebih kecil, misalnya wolffia, akar serta jaringan yang mengangkut air dan zat gizi telah hilang, dan para penulis secara langsung menyatakan bahwa spesies tersebut tidak diteliti secara langsung dalam karya ini.
Selain bagi ilmu dasar, duckweed menarik perhatian sebagai kemungkinan sumber pangan dan protein. Tanaman ini dipertimbangkan untuk pertanian di Bumi dan bahkan sebagai produk untuk misi antariksa jangka panjang. Salah satu keunggulannya adalah kecepatan: lempengannya berlipat ganda kira-kira dalam satu sampai tiga hari, sehingga memungkinkan panen dalam siklus yang sangat singkat. Namun duckweed belum menjadi tanaman budidaya sepenuhnya, berbeda dari tanaman biasa yang telah disempurnakan seleksi selama berabad-abad. Karena itulah pemahaman tentang susunannya begitu penting: tanpanya sulit memperkirakan bagaimana ia tumbuh, berkembang, dan bagaimana ia dapat diperbaiki.
Rekan penulis penelitian, Dr. Alex Ware, menegaskan: anggapan bahwa duckweed itu primitif atau telah kehilangan sebagian organnya adalah keliru. Data baru menambah kumpulan pengetahuan yang terus tumbuh tentang tanaman ini dan akan membantu menjadikan duckweed sebagai tanaman budidaya masa depan. Hal ini sangat penting dalam upaya mencari sumber pangan yang berkelanjutan dan cepat tumbuh.
Penemuan ini menunjukkan bahwa alam menyelesaikan persoalan pengecilan bukan melalui penyederhanaan, melainkan melalui penataan ulang unsur-unsur yang sudah ada. Bagi manusia, ini berarti peluang baru: dengan memahami mekanisme pertumbuhan duckweed, para ilmuwan dapat mendekati terciptanya tanaman yang ringkas dan bergizi untuk masa depan.
Dengan mempelajari bagaimana duckweed muat dalam ruang mungil tanpa kehilangan hakikatnya, kita memperoleh kunci untuk memanfaatkan dunia tumbuhan dengan lebih bijak dan penuh daya cipta.

