Di ngarai-ngarai rindang Kitulgala, tempat air Air Terjun Mannakettha Ella mengalir di bebatuan berlumut, alam terus menghadirkan kejutan bahkan di era peta satelit dan basis data genetik. Para peneliti baru saja mendeskripsikan spesies tumbuhan baru, endemik eksklusif Sri Lanka, — Impatiens yakandawalarum, atau balsam Kitulgala.
Penemuan ini dimulai dari foto-foto biasa yang diambil saat berjalan-jalan. Salani Gunaratne memotret tumbuhan itu, dan peneliti Peshala Pasan Karunaratne menyadari bahwa tumbuhan tersebut berbeda dari Impatiens janthina yang sudah dikenal. Materi itu diserahkan kepada spesialis dari Universitas Peradeniya, Bhathiya Gopallawa, dan pemeriksaan lapangan mengonfirmasi: di hadapan para ilmuwan ada spesies yang belum pernah dideskripsikan.
Balsam Kitulgala termasuk dalam famili balsaminaceae. Ciri pembeda utamanya adalah tidak adanya taji pada nektarium, yakni tonjolan berbentuk tabung yang khas pada banyak kerabatnya. Bunganya berwarna merah muda gelap, berdiameter sekitar dua sentimeter, dan tumbuhan ini lebih menyukai permukaan batu berlumut yang lembap serta akar pohon. Dengan penemuan spesies ini, jumlah total Impatiens di pulau itu mencapai 28, yang di antaranya 19 merupakan endemik.
Sri Lanka telah lama dikenal karena tingkat endemismenya yang tinggi: keterisolasian pulau dan keragaman iklim mikro menciptakan kondisi bagi munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang unik. Namun, penemuan semacam ini terjadi di tengah tekanan yang semakin besar terhadap kawasan alam — penebangan, pembukaan lahan pertanian, dan bahkan kawasan yang dilindungi pun tidak mudah untuk pulih. Publikasi di Ceylon Journal of Science pada 30 September 2026 menekankan perlunya melestarikan ekosistem yang utuh, bukan sekadar spesies individual.
Bunga mungil di bebatuan dekat air terjun itu seolah mengajak kita merenungkan berapa banyak lagi benang tak terlihat yang menghubungkan komunitas makhluk hidup di pulau ini. Setiap balsam semacam ini adalah bagian dari jaringan rumit penyerbuk, proses tanah, dan tata air, yang mudah terganggu tetapi sulit dipulihkan.
Para peneliti mencatat bahwa penemuan semacam ini bukanlah kebetulan: itu adalah hasil dari pengamatan cermat para naturalis lokal dan kerja sistematis para ilmuwan. Pada saat yang sama, hal itu mengingatkan bahwa bahkan wilayah yang sudah diteliti dengan baik pun dapat menyimpan spesies baru, asalkan habitat alaminya tetap terjaga.
Melindungi sudut-sudut semacam ini berarti melestarikan bukan hanya tumbuhan langka, tetapi juga seluruh kerangka kehidupan yang menjadi tumpuan ketahanan lanskap dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

