Pada hari Senin, 31 Agustus 2026, Telegram mulai meluncurkan Gram Wallet self-custodial miliknya sendiri kepada pengguna terpilih. Dompet ini akan menjadi standar bagi lebih dari satu miliar akun dalam beberapa minggu ke depan, dan Wallet custodial yang lama akan diubah namanya menjadi Walt dan dihapus dari pengaturan default.
Keputusan ini tampak sebagai langkah logis bagi platform yang telah lama bereksperimen dengan kripto. Gram — yang merupakan Toncoin yang diubah namanya di blockchain TON — kini tertanam langsung di dalam aplikasi perpesanan. Pengguna mendapatkan transfer instan tanpa biaya, dan validator jaringan telah menyetujui kontrak pintar sehingga pembaruan di masa depan tidak memerlukan migrasi dana. Pavel Durov menyebutnya sebagai "peluncuran dompet non-custodial terbesar dalam sejarah".
Di balik kemudahan ini terdapat pergeseran fundamental. Sebelumnya, mayoritas pengguna menyimpan aset dalam mode custodial: kunci ada di operator, sehingga akses dapat dipulihkan atau akun dapat diblokir. Sekarang, secara default, kunci hanya ada di pemilik. Ini seperti memberikan uang tunai kepada seseorang alih-alih kartu bank: tidak ada yang akan membekukan transfer, tetapi tidak ada yang bisa membantu mengembalikan jika hilang.
Bagi Telegram, keuntungannya jelas. Platform ini mengurangi hambatan masuk ke Web3, menarik pengguna baru, dan memperkuat ekosistem TON. Bagi orang biasa, konsekuensinya ganda. Di satu sisi, kontrol nyata atas uang tanpa perantara. Di sisi lain, tanggung jawab penuh atas frasa seed atau metode pemulihan alternatif. Kesalahan, phishing, atau kehilangan perangkat sekarang berarti kehilangan dana secara permanen.
Sejarah telah menunjukkan bahwa adopsi massal self-custody membutuhkan tidak hanya teknologi, tetapi juga kebiasaan. Sebagian besar pengguna aplikasi perpesanan tidak pernah berurusan dengan kunci privat. Telegram mencoba menyederhanakan proses — tanpa frasa panjang, dengan tautan ke akun dan email — tetapi skala satu miliar orang membuat setiap kerentanan menjadi global.
Pada akhirnya, Telegram tidak hanya menambahkan fitur. Ia mengubah sikap terhadap uang di dalam aplikasinya: dari "percaya pada platform" menjadi "pegang sendiri". Pertanyaannya hanya sejauh mana pengguna siap menerima kebebasan ini beserta risikonya.

