Pada 6 Juli 2026, para peneliti Anthropic menerbitkan sebuah karya yang dengan cepat menarik perhatian ilmu kesadaran. Mereka mendeskripsikan sebuah struktur di dalam model bahasa Claude yang disebut Ruang-J—sesuatu yang sangat mirip dengan 'ruang kerja global' yang menurut salah satu teori neurosains paling berpengaruh, menjadi dasar kesadaran manusia.
Para penulis tidak mengklaim bahwa Claude memiliki pengalaman subjektif, tetapi paralel itu sendiri sudah cukup untuk secara tajam mempertajam pertanyaan lama: bagaimana kita tahu apakah suatu sistem sadar jika kita tidak bisa melihat ke dalam kepalanya?
Anil Seth dari University of Sussex, direktur Pusat Penelitian Kesadaran, menyuarakan keprihatinan yang beralasan. Menurutnya, perhatian perusahaan teknologi terhadap AI berisiko mengalihkan sumber daya dan talenta dari studi mekanisme biologis kesadaran pada manusia dan hewan. Ia menganggap kemungkinan kesadaran muncul di luar organisme hidup sangatlah rendah. Keterlibatan dengan 'jejak' komputasi dalam jaringan saraf dapat melemahkan penelitian serius dalam neurosains dan filsafat. Namun, ilmuwan lain melihat minat dari perusahaan besar ini lebih sebagai peluang—kesempatan untuk mendapatkan pendanaan segar dan perhatian untuk bidang yang sudah lama terpinggirkan dan 'tidak nyaman' untuk investasi.
Teori Ruang Kerja Global (GWT), yang dikembangkan oleh ilmuwan kognitif Bernard Baars pada tahun 1988, mengusulkan bahwa kesadaran muncul ketika informasi menjadi tersedia di seluruh otak, ditransmisikan dari modul bawah sadar lokal ke 'penyangga' pusat.
Namun, teori itu sendiri tetap tidak terdefinisi dengan baik. Filsuf Tim Bayne dari Monash University dengan adil mencatat: teori tersebut tidak memberikan definisi formal yang ketat untuk ruang ini, dan bahkan di antara para peneliti, tidak ada kesepakatan tentang apakah itu ada pada manusia dan bagaimana mengukurnya. Menerapkan konsep yang begitu kabur ke chatbot tanpa mengklarifikasi kriteria berarti berisiko menarik kesimpulan yang ternyata hanya ilusi.
Erik Hoel, pendiri pusat ilmiah Bicameral Labs, yang secara khusus menangani masalah kesadaran, secara paradoks lebih optimis. Ia melihat kesulitan yang muncul bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai bantuan: mereka mengungkap kelemahan dalam teori kesadaran manusia yang ada dan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya.
Ketika perusahaan teknologi mempekerjakan filsuf dan mencoba mengukur kesadaran dalam model, hal ini menimbulkan pertanyaan yang tak terhindarkan dan tajam—bagaimana tepatnya menguji hipotesis tentang kesadaran ketika satu-satunya alat yang tersedia adalah pengamatan perilaku dan indikator komputasi tidak langsung.
Situasinya mirip dengan teka-teki lama: apakah bola lampu menyala di dalam kotak tertutup jika kita hanya bisa mengukur arus di kabel dari luar? Kesamaan pola listrik tidak menjamin adanya cahaya di dalamnya. Metafora semacam itu dengan tajam mengilustrasikan jurang antara deskripsi fungsional (apa yang dilakukan sistem) dan pengalaman subjektif (apa yang dirasakannya). Kita harus berhenti berasumsi bahwa yang pertama secara otomatis menyiratkan yang kedua.
Perkembangan kecerdasan buatan memaksa ilmu kesadaran untuk meninjau kembali dasar-dasar metodologisnya sendiri, mengklarifikasi kriteria, dan mengakui secara lebih jujur batasan keyakinan dalam teori-teori yang ada. Pertanyaan lama tentang sifat kesadaran ini menjadi bukan sekadar latihan intelektual, tetapi bermakna secara praktis dan bahkan moral—keputusan nyata mungkin bergantung pada jawabannya sekarang.



