Di Selandia Baru, tepatnya di Christchurch, seseorang memasang papan bertuliskan “Don't” yang terlihat sangat resmi. Hingga kini, warga masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang “tidak boleh” dilakukan.
Kejadian ini berlokasi di Christchurch, kota terbesar di Pulau Selatan Selandia Baru. Sesuatu yang aneh mulai terjadi: papan-papan penunjuk jalan yang didesain persis seperti peraturan resmi dewan kota – dengan jenis huruf, warna, dan estetika birokrasi yang sama kaku – bermunculan di jalanan. Namun, alih-alih tulisan umum seperti “Dilarang Parkir” atau “Dilarang Membuang Sampah”, papan-papan ini hanya memampang satu kata: “Don’t”.
Kadang-kadang, tulisan itu disertai dengan keterangan singkat: “Penalties may apply” (Denda mungkin berlaku).
🤔 Kota yang Dibikin Penasaran
Warga kota seketika diliputi kebingungan yang menyenangkan. Apa sebenarnya yang dilarang? Jangan berjalan? Jangan bernapas? Jangan memikirkan tempat parkir?
Kebiasaan warga Selandia Baru yang patuh pada aturan justru menjadi lelucon kejam bagi mereka: otak secara otomatis mulai mencari pelanggaran yang bisa dikenai denda sewaktu-waktu.
Para pejalan kaki berhenti, memotret papan-papan itu, mengunggahnya ke media sosial, dan terlibat dalam diskusi panjang tentang apa sebenarnya arti “don't” tersebut.
🎨 Tersingkap: Ini Adalah Karya Seni
Misteri itu akhirnya terungkap dengan cepat dan ternyata indah: di balik papan-papan itu adalah seniman lokal Cameron Hunt. Ini bukanlah kesalahan birokrasi atau provokasi, melainkan seni publik – sebuah seri dari enam instalasi absurd yang tersebar di seluruh kota. Hunt dengan sempurna meniru gaya visual rambu-rambu kota resmi untuk mengejutkan para pejalan kaki dan, pada akhirnya, membuat mereka tersenyum.
Salah satu papan hanya bertuliskan “Don’t”; pada papan lain, misalnya, tertulis bahwa area tersebut “sedikit berhantu, tapi terkendali,” atau menginstruksikan untuk berjalan dengan kecepatan tepat 2,83 km/jam.
Proyek ini merupakan bagian dari Little Street Art Festival. Hunt sengaja membuat papan-papan itu semirip mungkin dengan yang resmi agar orang awalnya menganggap perintah tersebut serius, lalu sedetik kemudian menyadari keabsurdannya. Bahkan tanda tangannya pun bersifat parodi: bukan Christchurch City Council, melainkan Christchurch City Confusion.
Dewan kota sendiri menanggapi dengan ramah: perwakilan kota mendukung bentuk seni jalanan semacam ini. Jadi, jawaban misterius untuk pertanyaan “apa sebenarnya yang tidak boleh?” adalah tidak ada yang spesifik. Itulah letak leluconnya.
👻 “Area Sedikit Berhantu, tapi Terkendali”
“Don't” bukanlah satu-satunya permata dalam seri ini. Di dekat salah satu bangunan terbengkalai, seniman itu menggantung papan dengan peringatan penting: “This area is slightly haunted, but manageable” (Area ini sedikit berhantu, tapi terkendali).
Di tempat lain, terpampang tulisan singkat “Enforcement applies” (Penegakan berlaku) – tanpa penjelasan sedikit pun mengenai apa yang ditegakkan. Setiap papan adalah tontonan kecil dari absurditas: semakin resmi bentuknya, semakin lucu isinya.
Rambu-rambu kota adalah bahasa kekuasaan yang begitu akrab sehingga terasa transparan. Kita membacanya secara otomatis dan tidak menyadarinya.
Hunt mematahkan otomatisasi ini: satu kata tambahan dalam bentuk yang familiar membuat orang berhenti, berpikir, dan tersenyum. Seni publik telah memenuhi tugas utamanya – mengembalikan nuansa permainan ke kota.
Kini, papan-papan tersebut telah menjadi spot foto populer dan bahan meme lokal. Dan warga Christchurch telah mengambil pelajaran penting: jika kota memintamu “jangan” – mungkin itu hanya ingin kamu tersenyum.
Dan, sebagai informasi: area ini sedikit berhantu, tapi terkendali. Anda telah diperingatkan. 😉


