Sudah cukup lama sejak kita menyaksikan film aksi yang jujur, bertenaga, dan benar-benar keren di layar lebar. The Master (A Working Man) bukan sekadar film aksi biasa; ini adalah sebuah kembalinya standar emas genre tersebut, di mana alur cerita dengan kejam melayani aksi, dan setiap pukulan memiliki bobot fisik yang nyata.
Kursi sutradara diduduki oleh David Ayer yang tak kenal lelah, sosok yang telah membuktikan kemampuannya dalam film penuh ketegangan seperti Fury dan The Beekeeper. Namun, daya tarik utama film ini terletak pada naskah yang ditulis langsung oleh Sylvester Stallone, yang diadaptasi dari seri buku populer karya Chuck Dixon mengenai mantan agen operatif bernama Levon Cade.
Anda bisa merasakannya di setiap adegan! Di sini berdetak jantung yang sama yang pernah membuat kita mendukung Rocky Balboa: kisah tentang seorang pekerja biasa (dalam hal ini, mantan agen khusus yang kini menjadi mandor konstruksi) yang hanya mendambakan kehidupan tenang dan membesarkan putrinya. Namun, ketika putri bosnya diculik, Levon terpaksa menyingkirkan debu masa lalunya dan mengingat kembali keahlian mematikannya untuk menghancurkan sindikat kriminal yang gelap seorang diri.
Mengapa film ini berhasil mencapai sasarannya? Pertama, karena dinamika dan kebrutalannya yang absolut. Film ini sama sekali tidak malu dengan jati dirinya. Ini bukanlah film thriller intelektual yang berpura-pura menjadi film aksi. Ini adalah film aksi yang bangga menjadi film aksi.
Pertarungan yang ditampilkan singkat dan brutal. Aksi kejar-kejaran terasa sangat dinamis. Para penjahat digambarkan dengan karakter yang penuh warna. Levon sendiri beroperasi dengan efisiensi yang menakutkan, sebuah gaya yang telah membuat film-film yang dibintangi Statham menjadi genre tersendiri. Terlebih lagi, ceritanya secara bertahap menjadi semakin gila. Semuanya dimulai sebagai kisah intim tentang seorang gadis yang hilang, dan berakhir dengan penyelaman nyata ke dalam dunia kriminal dengan aturan mainnya sendiri, karakter aneh, dan penjahat yang sangat eksentrik. Hampir tidak ada waktu untuk merasa bosan di sini.
Namun, kami merasa durasi film ini perlu sedikit dipangkas. Dengan durasi sekitar 116 menit, ini adalah satu-satunya keluhan serius kami. The Master bisa saja dibuat sedikit lebih singkat. Beberapa episode di paruh kedua bisa dengan mudah dipotong agar film ini terasa lebih mengalir dalam satu tarikan napas. Karena ketika film ini mencapai kecepatan penuh, hasilnya sangat indah. Jika pembuatnya memotong sekitar lima belas hingga dua puluh menit, penilaian kami bisa saja jauh lebih tinggi.
Mungkin itulah perasaan yang tersisa setelah kredit akhir bergulir. Bukan berarti The Master menciptakan genre baru. Sebaliknya, film ini mengambil formula film aksi pria klasik dengan penuh sukacita dan bertanya: mengapa harus mengubahnya jika formula tersebut masih berhasil? Film ini memiliki elemen dari film-film lama Stallone, sedikit nuansa John Wick, sedikit Taken, sentuhan dari The Beekeeper, dan tentu saja, ciri khas Statham yang kental. Brutal, tenang, dan sangat meyakinkan dalam peran sebagai pria yang seharusnya tidak diganggu.
Gaya dan atmosfer film ini menghembuskan semangat film aksi klasik tahun 90-an, namun dengan estetika modern yang halus. Ini adalah kisah yang membumi, berpasir, dan penuh gaya di mana sang pahlawan tidak memberikan monolog sombong, melainkan hanya melakukan pekerjaannya dengan tenang dan ahli.
Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini! Ini adalah perjalanan yang cerah, penuh pukulan, dan emosional yang membuat Anda tetap tegang dari menit pertama hingga terakhir. Penilaian kami adalah 8,9 dari 10. Satu-satunya catatan adalah jika film ini sedikit lebih pendek tanpa penurunan tempo di tengah, nilainya akan melambung lebih tinggi. Kami sangat menantikan bagian kedua untuk menikmati aksi yang berkualitas.
Kabar baik bagi para penggemar: kesuksesan film ini tidak luput dari perhatian. The Master 2 sudah ada di depan mata dan dijadwalkan rilis pada tahun 2026 dengan judul kerja yang menyertakan subjudul Severance Pay. Jadi, kisah Levon Cade akan mendapatkan kelanjutan yang logis dan, jika dilihat dari semua indikasi, akan jauh lebih keras. Jika Anda merindukan film di mana pahlawan menyelesaikan masalah bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan, The Master menanti Anda. Seduh teh, matikan lampu, dan bersiaplah untuk suntikan adrenalin yang murni dan kuat.
Bayangkan Jason Statham mengenakan helm konstruksi kotor dan jaket kerja. Di satu tangan ia memegang cetak biru yang digulung rapi dan secangkir kopi panas, sementara dengan tangan lainnya, dengan ketenangan sedingin es, ia melumpuhkan preman berjas mahal tanpa menumpahkan setetes pun kopi. Ilustrasi sempurna tentang bagaimana Levon Cade bekerja: diam, profesional, dan tanpa ruang untuk kesalahan.



