Seiring bertambahnya usia, hari dan tahun mulai terasa lebih singkat, meskipun kalender tetap berjalan pada kecepatan yang sama. Sebuah hipotesis baru mengaitkan sensasi ini bukan dengan jumlah memori yang tersimpan, melainkan dengan penurunan sumber daya energi otak secara bertahap.
Memahami mekanisme ini sangatlah penting: jika percepatan waktu subjektif memang mencerminkan keterbatasan energi, hal tersebut dapat memengaruhi motivasi, perencanaan, serta kondisi emosional para lansia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Aging Neuroscience menyarankan untuk memandang fenomena ini sebagai konsekuensi langsung dari perubahan metabolik.
Sebelumnya, teori yang mendominasi menyatakan bahwa waktu terasa lebih cepat karena akumulasi ingatan; di masa kecil setiap hari membawa banyak hal baru, sementara di kemudian hari berbagai peristiwa melebur dalam rutinitas yang monoton. Para penulis studi terbaru ini justru menyoroti faktor lain, yaitu penurunan efisiensi pemrosesan saraf akibat berkurangnya energi yang tersedia. Data mengenai fungsi mitokondria dan konsumsi glukosa pada korteks serebral orang berusia di atas 60 tahun memperkuat kaitan ini, meski eksperimen langsung pada manusia masih perlu diperbanyak.
Perbandingan dengan penjelasan lain menunjukkan bahwa hipotesis energi ini lebih selaras dengan observasi mengenai perlambatan proses kognitif selama penuaan. Berbagai penelitian yang meminta sukarelawan memperkirakan durasi interval menunjukkan bahwa lansia cenderung meremehkan waktu, seolah-olah "jam" internal mereka berdetak lebih cepat. Kendati demikian, para penulis menekankan bahwa data ini masih bersifat awal dan memerlukan pengujian lebih lanjut dalam kondisi yang terkendali.
Bayangkan sebuah komputer yang dari tahun ke tahun bekerja dengan baterai berkapasitas lebih rendah. Untuk menyelesaikan tugas yang sama, perangkat tersebut harus menurunkan frekuensi prosesornya. Dalam situasi serupa, otak memproses lebih sedikit informasi per unit waktu objektif, sehingga peristiwa eksternal tampak terjadi lebih cepat. Analogi ini membantu kita memahami mengapa laju kehidupan subjektif terasa kian cepat, bahkan ketika daya ingat masih terjaga dengan baik.
Hipotesis ini memang belum menawarkan rekomendasi praktis secara langsung, namun ia menunjukkan perlunya mempelajari metabolisme otak dalam konteks persepsi waktu. Jika keterbatasan energi benar-benar menjadi akar dari fenomena ini, maka intervensi yang ditujukan untuk mendukung fungsi mitokondria secara tidak langsung dapat memengaruhi cara seseorang merasakan jalannya hidup.
Temuan ini memaksa kita untuk melihat penuaan dari sudut pandang yang berbeda: ia tidak hanya mengubah kondisi fisik, tetapi juga skala yang digunakan manusia untuk mengukur waktu yang telah mereka jalani.



