Pada babak kualifikasi panahan putri di Asian Para Games 2026 di Nagoya, Shital Devi dari India meraih tepat 704 poin dari 720 poin yang mungkin. Hasil ini bukan sekadar menyamai rekor dunia, tetapi juga menunjukkan betapa tipisnya batas antara penampilan luar biasa dan pencapaian bersejarah.
Pemanah berusia sembilan belas tahun dari Jammu dan Kashmir ini sudah menjadi peraih medali perunggu Paralimpiade di Paris dan dua kali juara Asian Games. Kini ia memperbaiki rekornya sendiri di Asia dengan tambahan enam poin dan mencatatkan rekor baru Asian Games, melampaui angka 680 poin yang ia sendiri tetapkan di Hangzhou pada tahun 2023. Atlet Turki, Öznur Gürdi, tetap menjadi pemegang rekor dunia kedua.
Pada masing-masing dari dua babak kualifikasi, Devi meraih 352 poin, mengenai sasaran 32 kali di zona paling dalam "X" dan 25 kali di "sepuluh". Konsistensi seperti ini dalam 72 tembakan tidak hanya menunjukkan kemahiran teknis, tetapi juga kemampuan mempertahankan fokus di bawah tekanan ajang internasional. Bagi atlet muda dari daerah yang olahraganya sering berkembang justru di tengah berbagai keterbatasan, ini bukan lagi lonjakan kebetulan, melainkan pola yang mantap.
Panahan Paralimpiade adalah disiplin yang keberhasilannya bergantung pada detail sekecil apa pun: posisi jari, pernapasan, bahkan bayangan mental sasaran. Di sini, seperti dalam permainan catur, satu langkah keliru dapat menghapus semua usaha sebelumnya. Devi menunjukkan bahwa latihan rutin dan pengalaman di turnamen besar memungkinkan potensi kerentanan diubah menjadi keunggulan. Rekor Asia sebelumnya dengan 698 poin, yang ia tetapkan di Bangkok pada Maret 2026, hanyalah satu anak tangga perantara.
Tim India secara keseluruhan menunjukkan kekuatan: pada nomor ganda, Devi dan Payal Nag meraih 1379 poin dan memimpin kualifikasi. Nag mengumpulkan 675 poin dan menempati posisi kelima bersama. Hasil seperti ini memperkuat posisi India dalam program Paralimpiade dan menunjukkan bahwa pembinaan sistematis terhadap talenta muda mulai membuahkan hasil.
Pencapaian Devi mengingatkan bahwa dalam olahraga prestasi tertinggi, usia bukanlah penghalang, melainkan sumber daya. Perjalanannya dari perunggu Paralimpiade 2024 hingga menyamai rekor dunia dalam dua tahun menggambarkan bagaimana tekad dan dukungan federasi mengubah bakat individu menjadi aset bangsa. Di depan masih ada nomor beregu dan perorangan, di mana hasil ini dapat menjadi keunggulan psikologis bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi seluruh kontingen India.

