Di Ambang Batas Suara dan Keheningan

Penulis: Inna Horoshkina One

maya ongaku - Astral Echoes (Video musik resmi)

Hari ini, dua kisah musik yang terpisah ribuan kilometer tiba-tiba menyatu dalam satu harmoni yang selaras.

  1. Di Jepang, trio maya ongaku telah merampungkan album Nothing Space Music — sebuah buah karya dari perjalanan keliling dunia selama bertahun-tahun. Namun, alih-alih mencari inspirasi dalam gerakan tanpa henti, para musisi ini justru memilih untuk berhenti sejenak.

Di pesisir Shonan, mereka mendirikan Nothing Space Studio milik sendiri, yang terletak di tepi laut dekat sebuah kuil Shinto kuno.

Di tempat inilah lahir sebuah album yang mereka anggap bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan satu kesatuan ruang suara yang utuh.

Inti dari karya mereka adalah konsep Jepang 自然発生 (shizen hassei) — sebuah manifestasi kehidupan yang alami dan spontan, di mana hal yang paling esensial muncul bukan melalui paksaan, melainkan melalui kesiapan untuk hadir sepenuhnya di saat ini.

Single pertama bertajuk Astral Echoes seolah menjadi cerminan dari ide tersebut — sebuah musik di mana ruang kosong terdengar sama ekspresifnya dengan untaian nada itu sendiri.

  1. Hampir pada saat yang bersamaan di Inggris, grup musik The XCERTS merilis album keenam mereka yang berjudul i think i want to go home now.

Karya ini lahir setelah para anggota band melewati berbagai ujian hidup yang berat — mulai dari kehilangan anggota keluarga, kecemasan, hingga krisis pribadi.

Kita bersatu sebagai saudara dan bersandar pada Cinta...

Alih-alih menyembunyikan penderitaan tersebut di balik dentum suara yang lebih keras, para musisi ini justru menjadikannya bagian tak terpisahkan dari musik mereka.

Hasilnya adalah sebuah album yang bukan bercerita tentang pulang ke tempat fisik tertentu, melainkan tentang perjalanan kembali ke diri sendiri — ke titik di mana setelah peristiwa tersulit sekalipun, kemampuan untuk merasakan kehidupan muncul kembali. Album ini hadir setelah masa kehilangan yang mendalam, patah hati, dan periode ketika seolah-olah alam semesta sedang menguji apakah mereka sanggup untuk terus melangkah.

"Kami bersatu layaknya saudara dan bersandar pada Kasih…"

Begitulah cara The XCERTS menggambarkan kelahiran album keenam mereka — sebuah karya yang indah, jujur, dan menurut kata-kata mereka sendiri, sedikit babak belur oleh kehidupan.

Namun, setelah 25 tahun menempuh perjalanan bersama, para musisi ini tidak memilih jalan masing-masing.

Mereka justru semakin erat. Saling mendukung satu sama lain. Melalui rasa sakit bersama. Dan mengubahnya menjadi musik.

Kini, mereka menyebut album ini sebagai karya terbaik mereka dan hanya meminta satu hal kepada pendengar — luangkan waktu selama 34 menit dan 56 detik untuk mendengarkannya secara utuh, dari nada pertama hingga terakhir.

Karena ini bukan sekadar kumpulan lagu. Ini adalah kisah tentang bagaimana di tengah kehilangan, orang-orang tetap saling mendampingi. Bagaimana persaudaraan menjadi tumpuan. Dan bagaimana Kasih membantu tidak hanya untuk bertahan... tetapi juga untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar hidup.

Sepintas, kisah-kisah ini tampak tidak berkaitan. Negara yang berbeda. Tradisi yang berbeda.

Aliran musik yang berbeda pula. Namun, jika kita mendengarkan lebih saksama, keduanya mulai terdengar selaras.

Dan mungkin, inilah yang menjadi salah satu tren terindah dalam musik masa kini.

Bukan ambisi untuk menciptakan karya yang lebih rumit. Melainkan keinginan untuk melahirkan musik yang bersumber dari pengalaman otentik.

Mungkin itulah sebabnya semakin banyak album modern yang tidak lagi dianggap sebagai sekadar koleksi komposisi terpisah. Melainkan sebagai sebuah perjalanan yang utuh. Bukan melintasi genre musik.

Melainkan melintasi ruang batin manusia.

Dan jika tren ini terus berkembang, mungkin yang menanti kita di depan bukan sekadar babak baru dalam sejarah musik. Melainkan pemahaman baru bahwa musik sejati tidak pernah terpisah dari kehidupan itu sendiri.

Musik menjadi perpanjangan alami dari kehidupan.

Dan mungkin, karya-karya yang paling berpengaruh muncul bukan saat seseorang mencoba membuktikan sesuatu kepada dunia. Melainkan saat ia tetap setia pada apa pun yang menghubungkan dirinya dengan kehidupan.

34 Tampilan

Sumber-sumber

  • Nothing Space Music, by maya ongaku

  • maya ongaku detail upcoming album, Nothing Space Music

  • maya ongaku(Band) - ARTISTS

  • Album review: The XCERTS – i think i want to go home now

  • The Xcerts Announce New Album 'i think i want to go home now'

  • ALBUM REVIEW: The Xcerts - 'i think i want to go home now.'

  • Faith and fun. What to know about the Alive Music Festival in Ohio - AOL

  • Inside Boulder Roots: A Small Festival Thinking Big

  • Boulder Roots Music Fest

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.