Sebuah bintang mendekati akhir hidupnya.
Di intinya, keseimbangan seperti semula tak lagi dapat dipertahankan. Struktur raksasa itu mengerut, lalu terjadilah ledakan yang begitu dahsyat sehingga ruang dipenuhi cahaya, energi, dan materi yang telah dibentuk bintang itu selama jutaan tahun.
Tampaknya kita sedang menyaksikan sebuah finale yang megah.
Namun di alam semesta, berakhirnya satu bentuk tak jarang menjadi awal bagi banyak bentuk lain. Unsur-unsur yang terlempar menjadi bagian dari awan gas dan debu baru, bintang-bintang dan planet-planet di masa depan — dan, mungkin, suatu saat nanti, makhluk hidup.
Justru proses kosmis inilah yang coba diterjemahkan oleh para pencipta proyek Cosmic Rhapsody ke dalam bahasa musik. Bukan sebagai tragedi kehancuran, melainkan sebagai momen transformasi agung: bintang itu berpencar di seluruh alam semesta, bagaikan konfeti perayaan, meneruskan keberadaannya dalam dunia-dunia baru.
Kisah yang bermula dari imajinasi
Pada September 2026, tentang Cosmic Rhapsody orang kembali membicarakannya — berkat pertemuan tak terduga antara citra artistik dan astrofisika modern.
Penting untuk segera menegaskan kronologinya. Ini bukanlah pemutaran perdana sebuah karya baru: rekaman utama proyek ini berlangsung di studio Abbey Road di London pada November–Desember 2021, sedangkan pemutaran perdana dunia versi simfoninya berlangsung pada 5 Mei 2025 di Barbican Centre di London.
Alasan pemberitaan yang baru muncul pada 16–17 September 2026, ketika muncul materi-materi baru tentang keselarasan ilmiah antara klimaks karya tersebut dan tugas-tugas teleskop antariksa COSI.
Proyek ini diciptakan oleh dokter bedah dan penulis Susan Lim serta seorang ahli hukum, penulis, dan pencipta lagu Christina Teenz Tan. Komposer utama, pengorkestrasi, dan penata aransemennya adalah musisi Prancis Manu Martin.
Dalam perekaman ini turut serta Royal Philharmonic Orchestra, London Voices, City of London Voices, tim penampil internasional, dan pianis Prancis Jean‑Yves Thibaudet.
Cosmic Rhapsody menyatukan musik simfoni, lagu, dan animasi dalam satu narasi. Tokoh-tokohnya — manusia dan kecerdasan buatan — melakukan perjalanan kosmik, berusaha menemukan jawaban atas krisis ekologi Bumi.
Namun di pusat kisah berskala besar ini terdapat pertanyaan yang lebih mendalam: dapatkah manusia mendengar proses-proses alam semesta bukan hanya sebagai data ilmiah, tetapi juga sebagai pengalaman pribadi?
Bintang di Antara Awan Kosmik
Penyanyi dan komposer India Joi Barua menulis melodi untuk dua lagu penting dalam proyek ini — Star Among the Cosmic Clouds dan Confetti Storm. Kemudian bersama Manu Martin ia juga menggarap komposisi Confetti Star-Ion.
Lirik karya Susan Lim menggambarkan sebuah bintang yang sekarat, yang meledak dan mengembalikan materinya kepada alam semesta. Joi Barua mendengar dalam hal itu bukan hanya kehancuran.
Dalam tafsir musikalnya, supernova menjadi sebuah perluasan. Bintang itu seakan melepaskan segala yang telah terkumpul, agar unsur-unsur yang terbentuk di dalamnya dapat memasuki ikatan-ikatan baru dan bentuk-bentuk baru.
Dan karena itu musik tidak meratapi kepergiannya. Ia berbunyi dengan khidmat — seperti melintasi sebuah ambang, setelahnya satu kehidupan menjadi bahan bagi tak terhitung banyaknya kehidupan berikutnya.
Garis visual dari transformasi ini diciptakan oleh seniman dan sutradara Samudra Kajal Saikia. Ia menerjemahkan gerakan-gerakan musik menjadi aliran warna, cahaya, dan debu bintang.
Demikianlah satu proses kosmik memperoleh dua perwujudan artistik: komposer mendengarnya sebagai melodi, dan seniman melihatnya sebagai gerakan cahaya.
Ketika seni bertemu astrofisika
Musik Cosmic Rhapsody tidak diciptakan berdasarkan data NASA dan bukan merupakan sonifikasi sinyal dari luar angkasa. Ini perbedaan yang penting.
Sonifikasi mengubah data ilmiah nyata — misalnya kecerahan, energi, atau posisi suatu objek — menjadi parameter bunyi. Di sini semuanya terjadi secara berbeda: lebih dulu muncul citra artistik, musik, dan alur cerita. Dan baru kemudian para penciptanya menyadari betapa dekat mereka mendekati pertanyaan-pertanyaan yang diteliti oleh misi antariksa yang sesungguhnya.
Saat mengunjungi Space Sciences Laboratory Universitas California di Berkeley, tim proyek ini berkenalan dengan pekerjaan pada teleskop COSI — Compton Spectrometer and Imager.
COSI dirancang untuk mengamati sinar gama lunak. Di antara tugas ilmiahnya adalah mempelajari asal-usul unsur kimia dan proses yang terjadi saat bintang meledak.
Unsur-unsur seperti besi dan aluminium terbentuk di dalam perut bintang dan selama peristiwa kosmik yang paling dahsyat. Setelah bintang meledak, unsur-unsur itu tersebar di ruang angkasa, menjadi bagian dari awan antarbintang, dan menjadi bahan bagi generasi benda langit berikutnya.
Para pencipta Cosmic Rhapsody memahami: klimaks kisah mereka dan pengamatan COSI di masa depan tertuju pada satu proses yang sama, tetapi mendekatinya dari sisi yang berbeda.
Ilmu pengetahuan bertanya: di mana dan dengan cara bagaimana unsur-unsur lahir dan menyebar?
Musik bertanya: apa makna bagi kita ketika satu bentuk keberadaan berubah menjadi bentuk lain?
Ini bukan soundtrack yang dipesan secara resmi oleh NASA dan bukan hasil penelitian ilmiah bersama. Lebih tepat berbicara tentang pertemuan sebuah proyek seni dengan misi ilmiah, yang di dalamnya masing-masing pihak mengungkap satu kisah kosmik dengan caranya sendiri.
Kita memang tersusun dari materi bintang
Citra puitis tentang debu bintang memiliki dasar fisik.
Sebagian besar hidrogen di alam semesta muncul tidak lama setelah Big Bang. Tetapi banyak unsur yang lebih berat tercipta kemudian — di dalam bintang dan bencana bintang.
Kalsium pada tulang kita, besi pada darah kita, oksigen yang kita hirup, dan karbon yang menyusun dasar bentuk-bentuk kehidupan yang kita kenal, semuanya terkait dengan proses evolusi bintang purba.
Ini tidak berarti bahwa setiap atom dalam tubuh kita pasti pernah dilontarkan oleh satu supernova tertentu. Jalur kemunculan dan penyebaran unsur-unsur itu rumit: di dalamnya terlibat bintang-bintang dengan berbagai massa, angin bintang, ledakan supernova, dan penggabungan objek-objek padat.
Namun prinsip utamanya tetap menakjubkan: materi yang menyusun tubuh manusia telah melewati sejarah kosmos jauh sebelum Bumi muncul.
Kita mendengarkan musik tentang bintang dengan materi yang dahulu pernah menjadi milik bintang.
Dan saat itulah jarak antara manusia dan alam semesta menjadi sesuatu yang nisbi. Kita tidak mengamati sejarah kosmik dari luar — sejarah itu berlanjut dalam napas, darah, ingatan, dan kemampuan kita untuk mendengar.
Dua jalan menuju satu pengetahuan
Ilmu pengetahuan dan musik menggunakan cara-cara yang berbeda untuk memahami sesuatu.
Alat ilmiah mengukur energi radiasi gama, menentukan arah sinyal, dan menguji hipotesis. Musik tidak menggantikan pengukuran-pengukuran itu dan tidak membuktikan teori-teori fisika.
Namun musik memungkinkan manusia mengalami makna dari apa yang telah diukur.
Tabel dapat menunjukkan sebaran unsur-unsur kimia. Teleskop dapat merekam radiasi dari peristiwa yang jauh. Sedangkan melodi mampu membuat kita merasakan bahwa kehancuran sebuah bintang tidak selalu berarti kelenyapan: materinya melanjutkan perjalanan, berubah bentuk, dan menjadi bagian dari masa depan.
Di sinilah letak nilai dari pertemuan seni dengan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak bersaing dan tidak saling menduplikasi. Yang satu membuat proses itu dapat diakses oleh pengetahuan, yang lain membuatnya dapat diakses oleh pengalaman batin.
Ketika cara-cara persepsi itu bersatu, peristiwa kosmik tidak lagi hanya menjadi kilatan yang jauh. Peristiwa itu menjadi kisah yang dapat didengar manusia di dalam dirinya sendiri.
Bunyi yang berikutnya Cosmic Rhapsody
Pertunjukan perdana proyek ini di Amerika dijadwalkan pada 27 Juli 2027 di Hollywood Bowl. Dalam pertunjukan itu, Los Angeles Philharmonic dan Jean‑Yves Thibaudet dijadwalkan turut serta.
Dengan demikian, publikasi-publikasi pada September 2026 tidak bercerita tentang kemunculan komposisi baru, melainkan tentang tahap baru dari karya yang sudah ada: penampilannya yang akan datang di hadapan penonton Amerika dan keselarasan yang ditemukan dengan penelitian COSI.
Justru inilah yang membuat kisah ini sangat menarik. Kadang-kadang seni tidak mengilustrasikan penemuan ilmiah yang sudah jadi. Seni bergerak di jalannya sendiri — dan tiba-tiba sampai pada batas yang sama, yang dari sisi lain sedang diteliti oleh ilmu pengetahuan.
Selama alam semesta masih berbunyi
Supernova tampak seperti kehancuran jika kita hanya melihat lenyapnya sebuah bintang. Namun dalam skala yang lebih luas, ia adalah tindakan pewarisan: apa yang tercipta di dalamnya meninggalkan bentuk lamanya dan memperoleh kesempatan untuk ikut serta dalam kelahiran sesuatu yang baru.
Demikian pula halnya dengan musik.
Sebuah nada tunggal muncul, berbunyi, lalu menghilang. Namun ia tidak lenyap tanpa jejak — ia mengubah nada berikutnya, mentransformasi seluruh frasa, dan tetap bertahan dalam gerak utuh sebuah karya.
Mungkin karena itulah kisah Cosmic Rhapsody tidak sekadar dipahami sebagai fantasi tentang kosmos. Di dalamnya kita mengenali ritme universal sebuah transformasi: bentuknya berakhir, tetapi isinya melanjutkan perjalanan.
Bintang berpencar menjadi cahaya — dan Alam Semesta menyambutnya sebagai nada Penciptaan berikutnya.


