SpaceX kini menjadi sorotan utama di tengah aksi jual besar-besaran saham sektor teknologi. Selama tiga hari berturut-turut, nilai saham perusahaan tersebut merosot tajam hingga lebih dari 16%.
Financial Times memperkirakan kapitalisasi pasar SpaceX telah menyusut sebesar 400 miliar dolar. Sementara itu, Bloomberg melaporkan kerugian nilai pasar yang mencapai angka 600 miliar dolar.
Penurunan ini bermula setelah perusahaan menerbitkan obligasi investasi untuk pertama kalinya. Para investor bereaksi negatif terhadap peralihan strategi perusahaan yang sangat cepat dari penerbitan saham menjadi penarikan utang.
SpaceX, yang kerap disebut sebagai kekuatan utama Elon Musk di bidang kecerdasan buatan (AI) dan antariksa, kini memimpin koreksi pasar. Langkah penurunan ini segera diikuti oleh raksasa-raksasa teknologi lainnya.
Indeks global turut terseret turun, di mana MSCI Asia anjlok lebih dari 2% dan kontrak berjangka Nasdaq melemah 1,3%. Di pasar lain, indeks berjangka Eropa juga mencatatkan kehilangan nilai sekitar 1%.
Salah satu pemicu utamanya disebut-sebut adalah kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Hal ini memberikan tekanan tambahan yang signifikan terhadap saham-saham teknologi bervaluasi tinggi.
Sentimen pasar saat ini juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan berita dari Timur Tengah. Amerika Serikat baru saja memberikan lisensi selama 60 hari kepada Iran untuk menjual minyak di tengah upaya negosiasi perdamaian.
Para analis mencatat bahwa SpaceX telah menarik banyak minat dari dana pasif dan ETF dengan daya ungkit tinggi pasca-IPO. Penggunaan opsi jangka pendek serta pergerakan modal yang sangat cepat semakin memperparah volatilitas pasar saat ini.
Masa depan perusahaan akan sangat bergantung pada hasil kinerja di bulan Agustus mendatang. Namun untuk saat ini, gelombang koreksi masih terus membayangi seluruh sektor teknologi.



