Presiden Argentina Javier Milei memicu konflik diplomatik serius dengan Brasil melalui pidato tajamnya di sebuah konvensi pra-pemilu di São Paulo. Pada tanggal 25 Juli, ia berbicara di konvensi Partai Liberal, di mana Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan kepala negara Jair Bolsonaro, secara resmi dicalonkan sebagai kandidat presiden.
Milei mendedikasikan pidatonya untuk mengkritik kepemimpinan Brasil saat ini. Ia menyebut Presiden Luiz Inácio Lula da Silva sebagai 'pencuri' dan 'penjahat'. Pemimpin Argentina itu bereaksi lebih keras terhadap keputusan peradilan: ia menyebut hakim Mahkamah Agung Federal Alexandre de Moraes sebagai 'sampah', menyatakan kemarahan atas larangannya untuk mengunjungi Jair Bolsonaro, yang berada di bawah tahanan rumah.
Jair Bolsonaro menjalani hukuman 27 tahun karena upaya kudeta setelah pemilihan presiden 2022. Ia dihukum karena mengatur konspirasi untuk menggulingkan presiden yang berkuasa. Pada Maret 2026, Hakim de Moraes memindahkannya ke tahanan rumah karena alasan kesehatan, tetapi dengan pembatasan kunjungan hanya untuk pengacara dan dokter.
Reaksi terhadap pidato Milei segera dan keras. Hakim de Moraes menyebut kata-kata presiden Argentina itu sebagai 'pernyataan tidak hormat terhadap hakim pengadilan tertinggi negara, yang dibuat di tanah Brasil'. Perilaku itu sendiri dianggap sebagai penghinaan langsung terhadap negara dan sistem peradilan Brasil.
Kementerian Luar Negeri Brasil menanggapi dengan nota diplomatik: menarik duta besar Júlio Bitelli di Argentina untuk konsultasi. Ini adalah sinyal serius tentang rusaknya hubungan normal antara negara-negara tetangga. Keputusan itu dibuat pada 26 Juli, sehari setelah pidato kontroversial, untuk menyatakan protes baik terhadap penghinaan terhadap kepala negara maupun terhadap kritik terhadap sistem peradilan.
Kalangan sayap kiri di Argentina menjauhkan diri dari tindakan Milei. Mantan presiden Alberto Fernández menerbitkan video pernyataan, di mana ia mengkritik ulah rekannya. 'Milei datang ke Brasil dan bertindak seperti orang gila, menuntut pertemuan dengan orang yang dihukum karena upaya kudeta,' katanya. Fernández menekankan bahwa perilaku presiden saat ini tidak mencerminkan posisi mayoritas warga Argentina dan merusak kemitraan strategis kedua negara.
Gubernur provinsi Buenos Aires, Argentina, Axel Kicillof, mengirimkan surat resmi kepada Menteri Luar Negeri Brasil Mauro Vieira. Kicillof menyatakan bahwa Milei tidak mewakili kepentingan rakyat Argentina dan dengan perilakunya membahayakan investasi, hubungan ekspor, dan ribuan pekerjaan di kedua negara.
Presiden Lula da Silva bereaksi dengan hati-hati. Ia tidak membalas tuduhan secara langsung, tetapi memberikan sinyal penting dengan posisinya. Dalam artikel untuk The Washington Post, Lula menekankan prinsip kedaulatan nasional: nasib Brasil hanya ditentukan oleh orang Brasil, tanpa campur tangan eksternal apa pun. Pesan ini dianggap sebagai peringatan tidak langsung kepada Milei tentang ketidaklayakan tekanan terhadap sistem peradilan.
Krisis antara dua ekonomi terbesar di Amerika Selatan adalah akibat dari konflik kepentingan tertentu: Milei ingin bertemu dengan sekutu politiknya Bolsonaro, tetapi pengadilan Brasil menganggapnya sebagai ancaman terhadap keadilan dan hukum. Skandal diplomatik ini membuka pertanyaan tentang batas-batas campur tangan politik dalam independensi peradilan dan tentang tanggung jawab para pemimpin terhadap negara hukum.


