Pada pertengahan Juli 2026, klip video pendek mulai menyebar luas di media sosial, dengan cepat menarik perhatian ribuan pengguna. Di dalamnya, fisikawan dan peneliti kesadaran Tom Campbell, yang pernah bekerja di NASA, berbicara dengan tenang dan argumentatif tentang apa yang terjadi setelah kematian. Klip tersebut merupakan kutipan dari wawancara baru di kanal The Why Files, yang tayang beberapa hari sebelumnya.
Percakapan, yang direkam dalam format "the basement" — begitulah sebutan format acara tersebut — berlangsung lebih dari dua jam. Pembawa acara dan Campbell membahas perjalanan dari fisika praktis ke studi kesadaran yang mendalam. Campbell, dengan latar belakang bekerja di sistem pertahanan rudal dan konsultasi untuk NASA mengenai penilaian risiko, tidak asing lagi dengan cara memodelkan realitas yang kompleks. Bersamaan dengan itu, ia telah menghabiskan lebih dari setengah abad bereksperimen dengan kondisi kesadaran yang berubah. Pada tahun 1970-an, ia membantu meluncurkan laboratorium Robert Monroe, tempat pengalaman keluar dari tubuh dipelajari, dan berpartisipasi dalam menciptakan teknologi yang memungkinkan pencapaian kondisi ini tanpa zat kimia.
Dalam wawancara yang dirilis, Campbell menguraikan poin-poin utama teorinya "My Big TOE". Menurutnya, dunia fisik adalah realitas virtual yang diciptakan untuk evolusi kesadaran. Kematian dalam gambaran ini bukanlah akhir, melainkan transisi: kesadaran hanya meninggalkan "avatar" — tubuh — dan melanjutkan perjalanannya di realitas lain. "Mati sama alaminya dengan lahir," katanya. Seseorang memperoleh pengalaman baru, peluang baru untuk bertumbuh. Reinkarnasi di sini bukanlah tentang reunifikasi abadi dengan orang-orang terkasih yang sama, tetapi tentang perkembangan konstan melalui banyak kehidupan.
Campbell berbicara dengan sangat hati-hati tentang duka. Reaksi normal terhadap kehilangan adalah respons alami terhadap perubahan mendadak. Namun, jika kesedihan berlanjut dan berubah menjadi belas kasihan diri yang berkepanjangan, itu menghalangi untuk melanjutkan hidup dan, menurut pengamatannya, dapat mempersulit potensi komunikasi dengan mereka yang telah tiada. "Anda masih memiliki kehidupan," mengingatkan sang fisikawan. Orang yang terkasih, menurutnya, ingin melihat orang yang ditinggalkan terus membuat pilihan dan bergerak maju.
Postingan dengan klip tersebut, yang diterbitkan pada 15 Juli, mengumpulkan puluhan ribu penayangan. Keesokan harinya, Dr. Allison Brown mengomentarinya, mencatat bahwa duka yang berkepanjangan memang dapat menghambat komunikasi "melalui tabir". Reaksi audiens menunjukkan: topik kematian dan kesadaran tetap menjadi salah satu yang paling menggugah, terutama ketika dibicarakan oleh seseorang dengan latar belakang ilmiah yang serius.
Wawancara ini tidak mengklaim sebagai kebenaran mutlak. Campbell menekankan pentingnya pengalaman pribadi dan verifikasi. Pendekatannya adalah upaya untuk menyatukan fisika kuantum, data tentang kesadaran, dan pengamatan bertahun-tahun ke dalam satu model. Sementara para ilmuwan terus memperdebatkan sifat realitas, percakapan semacam itu secara halus mendorong kita untuk merenung: mungkin kita jauh lebih dari sekadar mesin biologis, dan di luar apa yang terlihat, bukan kekosongan yang menunggu kita, melainkan kelanjutan dari perjalanan.
