Di India, biji-bijian di gudang telah lama menjadi jaminan untuk kredit pertanian, tetapi tanda terima gudang berbasis kertas sering menjadi sumber perselisihan dan penipuan. Kini tiga bank besar di negara itu mulai menguji versi digitalnya di blockchain Avalanche — dan ini bukan sekadar eksperimen teknologi, melainkan upaya membuat aset fisik menjadi transparan bagi sistem keuangan.
Perusahaan Arya.ag, operator gudang pertanian terbesar di India, mengelola persediaan biji-bijian senilai sekitar dua miliar dolar dan setiap tahun membantu memfasilitasi kredit sekitar 1,3 miliar. Bersama Finternet, perusahaan ini mengubah tanda terima gudang elektronik yang dapat dipindahtangankan (e-NWR) menjadi bentuk tokenisasi pada jaringan khusus tingkat 1 yang dibangun dengan teknologi Avalanche. Pengumuman disampaikan oleh Nandan Nilekani pada Festival Fintech Global di Mumbai 10 September 2026 tahun.
Keuntungan utama bagi bank adalah kemampuan memverifikasi secara real-time apakah biji-bijian itu ada, apakah telah digadaikan kembali, dan bagaimana statusnya. Sebelumnya, verifikasi bergantung pada dokumen kertas dan pemeriksaan manual, yang menyisakan ruang bagi kesalahan dan penyalahgunaan. Blockchain di sini berperan bukan sebagai instrumen spekulatif, melainkan sebagai basis data bersama yang terlindung dari pemalsuan bagi para pelaku pasar yang teregulasi.
Jaringan ini masih tertutup dan dikelola oleh Arya.ag sendiri, sehingga memungkinkan kepatuhan terhadap persyaratan regulator dan kerahasiaan perbankan. Tiga bank besar telah bergabung dalam pengujian, meskipun nama mereka belum diungkapkan. Menurut perwakilan Ava Labs, lembaga keuangan mana pun dapat bergabung nanti, dan platform itu sendiri berencana memperluas ke perusahaan pergudangan lain.
Bagi para petani, ini dapat berarti akses yang lebih cepat ke dana tanpa harus segera menjual hasil panen dengan harga rendah setelah panen. Jaminannya tetap berupa biji-bijian fisik, tetapi kembaran digitalnya membuat proses perkreditan lebih dapat diprediksi. Namun, dampak nyata terhadap volume dan biaya pinjaman masih perlu dibuktikan — untuk saat ini yang dibahas adalah uji coba dan infrastruktur.
Proyek ini menunjukkan bagaimana aset tradisional secara bertahap memperoleh "cangkang" digital yang mengurangi gesekan antara dunia fisik dan lembaga keuangan. Persoalannya bukan apakah blockchain akan menggantikan bank, melainkan seberapa efektif blockchain membantu bank bekerja dengan ekonomi riil.
