Para penumpang di bandara Dubai, Abu Dhabi, dan Sharjah disarankan untuk meluangkan waktu tambahan: jadwal penerbangan masih rentan terhadap perubahan bahkan di tengah persiapan menghadapi lonjakan arus penumpang pasca-musim panas.
Per 22 Agustus 2026, maskapai penerbangan utama di kawasan ini — Emirates, Etihad, dan Air Arabia — terus mengoperasikan sebagian besar penerbangan ke tujuan di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi, namun sejumlah penerbangan dibatalkan atau ditunda. Secara khusus, Emirates telah membatalkan beberapa penerbangan Dubai — Bahrain, sementara Air Arabia melaporkan adanya pembatalan dan penyesuaian pada rute dari Sharjah dan Abu Dhabi.
Ketegangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz berdampak pada penerbangan regional: beberapa maskapai internasional, termasuk Air Canada, British Airways, dan Singapore Airlines, telah menangguhkan penerbangan ke Dubai hingga musim gugur atau musim dingin 2027. Pada saat yang sama, operator lokal tetap fleksibel dengan menyesuaikan jadwal secara waktu nyata.
Secara paralel, bandara-bandara di UEA meningkatkan kesiapan untuk menyambut kembalinya para pelancong setelah liburan musim panas. Direktorat Jenderal Urusan Kependudukan dan Orang Asing Dubai telah menambah staf di titik pemeriksaan dan pos lintas batas untuk mempercepat pemrosesan penumpang dan meminimalkan antrean.
Para ahli mencatat bahwa dalam kondisi ketidakpastian, faktor kuncinya adalah pemberian informasi yang cepat: penumpang disarankan untuk memeriksa status penerbangan tepat sebelum berangkat ke bandara, melakukan check-in daring, dan tiba tiga hingga empat jam sebelumnya. Praktik ini memungkinkan pusat penerbangan untuk mempertahankan kapasitas operasional bahkan saat terjadi penyesuaian mendadak.
Dengan demikian, sistem penerbangan UEA menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan kombinasi lonjakan musiman dan faktor eksternal, sembari tetap memprioritaskan keselamatan dan pemberian informasi kepada para pelancong.
