Pada hari Minggu, 6 September 2026, bandara Soekarno-Hatta di Jakarta menghentikan penerbangan karena abu vulkanik dari Anak Krakatau.
Erupsi dimulai Jumat malam. Abu mencapai bandara Minggu dini hari, kata Kementerian Perhubungan Indonesia.
Bandara, yang terbesar di negara ini, menghentikan operasional hingga 13:30 waktu setempat. Hal ini memengaruhi antara 209 hingga 301 penerbangan, termasuk puluhan penerbangan internasional.
Enam belas penerbangan internasional dibatalkan, tujuh ditunda, lima dijadwalkan ulang. Di antara tujuan adalah Singapura, Hong Kong, Sydney, dan Amsterdam. Singapore Airlines membatalkan semua penerbangan ke dan dari Jakarta untuk sisa hari itu.
Abu menyebar ke sebagian Jawa dan Sumatra. Kolom abu mencapai ketinggian hingga 15 000 meter di sisi Sumatra dan 6000 meter di sisi Jawa, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada hari Sabtu, kegiatan belajar di beberapa sekolah dibatalkan: para siswa dan warga mengalami iritasi mata akibat abu. Nelayan membatalkan melaut.
Badan Penanggulangan Bencana menyatakan tidak ada ancaman tsunami langsung. Pertanyaannya adalah berapa lama pembatasan bagi penumpang pesawat akan berlangsung.
Anak Krakatau terletak di Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra dan telah aktif sejak awal Juli, dengan erupsi yang menguat pada 4 September.

