Saat ajang legendaris "Grande Boucle" dimulai, drama selalu menjadi hal yang dinantikan. Namun, Tour de France 2026 sejak hari-hari pertamanya tak sekadar menyuguhkan thriller olahraga, melainkan sebuah kiamat nyata. Wilayah selatan Prancis menyambut para pembalap bukan dengan sinar matahari yang ramah, melainkan dengan suhu panas yang membara dan asap yang menyesakkan. Kebakaran hutan yang berkobar di Pyrenees mengubah etape ketiga menjadi ajang bertahan hidup, di mana yang dipertaruhkan bukan hanya gelar juara, melainkan eksistensi balapan itu sendiri dalam lembaran sejarah.
Si jago merah terus merangsek maju. Kobaran api nyaris menyentuh roda peleton, dengan titik-titik kebakaran yang muncul hanya 60 kilometer dari garis finis di Les Angles. Dengan berat hati, pihak penyelenggara terpaksa mengambil langkah-langkah luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Empat puluh kilometer terakhir dari etape ketiga, termasuk tanjakan legendaris Col du Calvaire dan pendakian menuju puncak Les Angles, ditutup total bagi para penonton. Iring-iringan karavan iklan ikonik "Tour" yang biasanya menyulap jalanan menjadi karnaval meriah pun dipaksa putar balik dan dilarang melintasi jalur tersebut.
Bayangkan pemandangan ini: rute pegunungan sejauh 196 kilometer yang meletihkan dari Granollers, Spanyol, menuju Les Angles, Prancis. Namun, di segmen yang krusial, tak ada lautan penggemar yang berteriak seperti biasanya, tak ada kepulan asap dari suar, maupun bendera yang berkibar. Yang tersisa hanyalah denting rantai sepeda, deru napas para pembalap yang tersengal, aspal yang meleleh, dan langit merah padam yang diselimuti kabut asap. Jalanan kosong di pegunungan Pyrenees tampak bak latar film pasca-apokaliptik, namun di tengah suasana surealis inilah duel olahraga yang agung berlangsung.
Dan di tengah neraka itu, berdirilah dia—Tadej Pogacar. Fenomena asal Slovenia yang membela tim UAE Emirates ini seolah tak acuh pada kabut asap, panas yang membakar, maupun statusnya sebagai target utama lawan. Tanjakan terakhir menuju Les Angles menjadi panggung bagi pertunjukan solonya. Di saat yang lain terengah-engah, Pogacar justru menemukan "tenaga ekstra" yang menjadi ciri khasnya, bahkan kekuatan tambahan setelahnya. Dengan kecepatan tanpa ampun di jalur berliku yang curam, sang rival utama, pembalap tangguh asal Denmark Jonas Vingegaard, terpaksa tertinggal di belakang sambil menelan debu dan asap yang menyengat.
Pogacar memenangkan etape ketiga, melintasi garis finis dengan ekspresi wajah yang tidak menunjukkan kelelahan, melainkan rasa lapar yang buas akan kemenangan. Namun yang terpenting, ia merebut kaus kuning pimpinan klasemen, mengenakannya di bahu layaknya mahkota bagi penakluk alam.
Tour de France kali ini akan selalu dikenang bukan hanya karena adu ketangkasan bersepeda, melainkan sebagai ujian berat dari alam. Namun, selagi api melahap hutan, di singgasana "Grande Boucle" bertahta seorang pria yang dirinya sendiri adalah sebuah kekuatan alam. Dan selama Tadej Pogacar yang mengenakan kaus kuning memacu sepedanya di lereng Pyrenees yang hangus, tampaknya baik kebakaran maupun lawan tak sanggup menandingi sosok yang lahir dari kegilaan pegunungan ini.



