Demi Vollering melintasi garis finis di Col d’Èze, dan seketika jelaslah: musim balap sepeda putri 2026 telah menemukan juaranya. Pembalap asal Belanda ini tidak hanya mengulang kemenangannya di Tour de France Femmes—ia menjadi yang pertama melakukannya dua kali sejak balapan tersebut dihidupkan kembali pada tahun 2022, menambahkan gelar tersebut dengan kemenangan di Giro d’Italia. Paradoksnya, dominasinya terlihat tak terbantahkan sekaligus rapuh: setiap etape menuntut ketahanan mental yang semakin besar.
Vollering datang ke Tour sebagai favorit jelas, namun jalan menuju kaus kuning terbukti berliku. Tiga kemenangan etape, termasuk serangan penentu 800 meter menjelang puncak di hari terakhir, memungkinkannya unggul 1 menit 18 detik dari Kasia Niewiadoma. Pembalap Polandia itu kembali finis di posisi kedua, seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kali ini ia berhasil memenangkan etape di Mont Ventoux dan membuktikan bahwa kemenangannya pada tahun 2024 bukanlah suatu kebetulan.
Tim UAE Team ADQ muncul sebagai pemenang utama balapan berdasarkan klasemen tim. Elisa Longo Borghini naik podium, sementara pembalap Spanyol berusia 23 tahun, Paula Blasi, yang melakukan debutnya di Tour, finis kelima dalam klasemen umum, hanya terpaut 6 menit 13 detik dari pemimpin. Blasi membantu pembalap Italia tersebut, namun ia juga menunjukkan gaya menyerang dan bahkan melakukan serangan di putaran terakhir melintasi Col d’Èze.
Faktor psikologis balapan menjadi sangat menonjol. Vollering ingat kekalahan tahun 2024 dari Niewiadoma di detik-detik terakhir, dan kali ini ia tidak menunggu hingga hari terakhir. Timnya menciptakan jebakan nyata pada etape di Nice, di mana terjadi insiden kontroversial terkait pemblokiran pemimpin. Hal ini memberikan motivasi tambahan bagi pembalap Belanda tersebut pada etape terakhir.
Bagi para veteran, Tour berlangsung dengan cara yang berbeda-beda. Marlen Reusser memenangkan time trial dan mengenakan kaus kuning selama tiga hari, tetapi akhirnya tergelincir ke posisi ketiga setelah jatuh di turunan. Pauline Ferrand-Prévot, juara tahun 2025, gagal mempertahankan gelarnya dan bahkan tidak memulai setelah Ventoux. Kontras-kontras ini menunjukkan betapa cepatnya keseimbangan kekuatan dapat berubah.
Munculnya pembalap muda seperti Blasi menunjukkan semakin dalamnya kedalaman peloton. Pembalap Spanyol itu, yang telah memenangkan Vuelta dan Amstel, menegaskan statusnya sebagai salah satu harapan utama dalam balap sepeda dunia. Hasilnya dalam debut Tour-nya, meskipun partisipasinya tidak direncanakan, menunjukkan bahwa generasi baru siap menantang para pemimpin yang sudah mapan.
Kesuksesan ganda Vollering menggarisbawahi bagaimana komersialisasi dan investasi dari tim-tim seperti UAE mengubah balap sepeda putri, menjadikannya lebih kompetitif dan menarik untuk tahun-tahun mendatang.

