Di dataran tinggi batu kapur yang remang-remang di Oman Utara, tempat lereng pegunungan Hajar nyaris tidak menahan kelembapan dalam iklim yang sangat kering, sebuah penemuan yang didambakan para ahli botani telah terjadi: para ilmuwan dari Universitas Sultan Qaboos telah mendeskripsikan tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui oleh sains. Penemuannya kembali membuktikan bahwa bahkan di sudut-sudut planet yang paling tampak tandus sekalipun, evolusi terus menciptakan bentuk-bentuk kehidupan baru.
Spesies baru ini diberi nama Adenosciadium omanensis – sebuah penghormatan langsung kepada negara tempat tumbuhan ini pertama kali ditemukan di lereng timur Pegunungan Hajar. Tumbuhan ini termasuk dalam keluarga peterseli, atau Apiaceae, dan berkerabat dekat secara genetik dengan Adenosciadium arabicum, kerabat terdekatnya yang diketahui, yang tersebar di Oman selatan dan lebih jauh ke Yaman. Namun, iklim dan tanah dataran tinggi utara secara fundamental telah membentuk kembali penampilannya: daunnya memperoleh lapisan seperti beludru yang khas, daun kecilnya menjadi berbentuk ginjal dengan tepi bergerigi yang anggun, jumlah bunganya meningkat, dan bijinya jelas berubah bentuk dan ukurannya – hasil pasti dari adaptasi terhadap kondisi ekstrem.
Penemuan itu sendiri, yang diterbitkan dalam Edinburgh Journal of Botany yang bereputasi pada Juni 2026, mungkin tampak bersifat khusus. Namun, signifikansinya jauh lebih dalam. Para peneliti dari Universitas Sultan Qaboos menekankan: perbedaan antara kedua spesies tersebut bukanlah sekadar keanehan morfologis. Perbedaan tersebut mencerminkan proses spesiasi, yang dipicu dalam waktu nyata oleh kondisi ekstrem – iklim yang lebih kering, medan dan tanah yang berbeda, yang bertindak sebagai katalisator perubahan evolusioner. Adaptasi ini memungkinkan Adenosciadium omanensis untuk bertahan hidup di tempat yang tidak dapat dilakukan oleh kerabat dekatnya.
Dataran tinggi batu kapur di bagian timur Pegunungan Hajar adalah tempat yang sulit dijangkau dan jarang dipelajari. Dalam lima tahun terakhir, jumlah spesies tumbuhan yang dideskripsikan di Oman telah meningkat dari 1300 menjadi 1440 tumbuhan, yang menunjukkan aktivitas intens para ahli botani dalam menginventarisasi flora di wilayah tersebut. Setiap penemuan baru menambahkan detail pada gambaran keanekaragaman hayati yang telah terbentuk selama ribuan tahun dalam isolasi geografis. Penelitian lebih lanjut akan membantu memahami komposisi kimia Adenosciadium omanensis dan kemungkinan khasiatnya yang bermanfaat – saat ini, tidak ada informasi tentang penggunaan tradisional atau potensi obatnya.
Para ilmuwan menekankan perlunya melanjutkan pekerjaan lapangan dan pemantauan ekologi. Data awal menunjukkan bahwa Adenosciadium omanensis dapat berfungsi sebagai bioindikator kondisi ekosistem pegunungan Oman, yang sangat sensitif terhadap fluktuasi iklim dan aktivitas manusia. Tumbuhan ini telah dimasukkan dalam herbarium Universitas Sultan Qaboos, tempat ia disimpan sebagai spesimen tipe yang diakui secara internasional.
Penemuan ini terjadi pada saat kritis: Oman, yang terletak di persimpangan tiga wilayah biogeografi (Palearktik, Afrotroptis, dan wilayah Indomalaya), termasuk di antara pusat keanekaragaman hayati global. Pelestarian dataran tinggi Pegunungan Hajar bukan hanya tugas ilmiah, tetapi juga kontribusi untuk pelestarian keanekaragaman hayati planet ini.

