Emosi kelompok sebagai pengatur tak kasatmata dalam pembelajaran kolaboratif: sebuah model konseptual baru

Diedit oleh: Svitlana Velhush

Dalam pembelajaran kolaboratif, diamnya kelompok sering kali menyembunyikan seluruh spektrum emosi — dari kekesalan yang tenang hingga lonjakan yang tiba-tiba — yang entah menghambat atau mempercepat kemajuan bersama. Sebuah penelitian baru ilmuwan Tiongkok, yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026 di Frontiers in Psychology, menawarkan landasan konseptual dan model proses kesadaran emosi kelompok khusus untuk regulasi pembelajaran yang dibagikan secara sosial (SSRL).

Para penulis — Jiawen Chen, Xihan Song, dan rekan-rekan — berangkat dari anggapan bahwa sekadar mengenali emosi tidaklah cukup. Yang penting adalah memahami penyebabnya dalam konteks tugas, interaksi sosial, dan kendali yang dipersepsikan. Tanpa itu, informasi emosional tetap menjadi bahan mentah, bukan alat regulasi.

Model yang diusulkan mengintegrasikan teori emosi pencapaian dengan tahapan SSRL: dari perencanaan tujuan bersama melalui pemantauan dan pengendalian hingga refleksi dan evaluasi. Pada setiap tahap, kelompok memerlukan informasi emosional yang spesifik — ekspresi sinyal eksternal, interpretasi bersama atasnya, dan pembentukan pemahaman bersama tentang masalah.

Mekanisme kuncinya adalah peralihan dari persepsi individual ke persepsi kelompok: ketika para peserta tidak hanya menyadari bahwa seseorang merasa kesal, tetapi juga bersama-sama menelusuri apakah hal itu terkait dengan kesulitan tugas, konflik peran, atau nilai tugas yang diremehkan. Analisis atributif semacam itu mengurangi beban kognitif dan membuka jalan menuju strategi regulasi yang adaptif.

Bagian praktis dari model ini mencakup perancah pedagogis dan alat teknologi — dari visualisasi keadaan emosional hingga petunjuk untuk diskusi bersama tentang penyebabnya. Para penulis bersandar pada rangkaian data empiris yang menunjukkan bagaimana ekspresi emosi eksternal, interpretasi yang dibagikan, dan peralihan antara mode SRL, CoRL, dan SSRL memperkuat efektivitas kolaborasi.

Dengan demikian, penelitian ini menggeser fokus dari pengukuran emosi ke pemanfaatannya secara aktif dalam proses regulasi bersama. Ini bukan sekadar menambahkan “lapisan emosional”, melainkan pengakuan bahwa dalam kelompok, emosi menjadi sinyal sosial yang mampu entah merusak atau memperkuat sumber daya kognitif dan motivasional kolektif.

Pada akhirnya, model ini mengingatkan: keberhasilan pembelajaran kolaboratif tidak bergantung pada ketiadaan emosi negatif, melainkan pada kemampuan kelompok untuk menyadarinya tepat waktu, memahaminya, dan mengubahnya menjadi strategi tindakan bersama.

5 Tampilan

Sumber-sumber

  • New Research: Group emotion awareness in socially shared regulation of learning: a conceptual framework and process model

Komentar

Apakah Anda menemukan kesalahan atau ketidakakuratan?Kami akan mempertimbangkan komentar Anda sesegera mungkin.