Setelah bertahun-tahun vakum, waralaba parodi kultus ini akhirnya kembali ke layar lebar. Film terbaru ini pun segera menjadi salah satu rilisan komedi yang paling banyak diperbincangkan.

Daya tarik utama proyek ini adalah reuni para kreator orisinal dari bagian-bagian awal filmnya—Marlon, Shawn, dan Keenen Ivory Wayans—yang bekerja sama dengan studio Paramount serta Miramax. Film ini disutradarai oleh M. Tiddes. Para penciptanya memutuskan untuk mengabaikan kesantunan politik modern demi membuktikan bahwa dalam komedi tetap tidak ada topik yang terlarang.
Alur ceritanya sendiri mengambil latar waktu seperempat abad setelah peristiwa di film pertama. Cindy, Brenda, Ray, dan Shorty yang kini telah menua namun tetap gila, kembali menjadi incaran sang pembunuh bertopeng Ghostface. Kali ini mereka tidak hanya harus berurusan dengan sang pembunuh, tetapi juga dengan generasi Zoomer yang merupakan anak-anak dari para karakter utama.
Saat anak-anak muda ini mencoba menerapkan aturan mereka sendiri, para veteran memberikan perlawanan yang keras. Naskah film ini benar-benar dipenuhi parodi tajam terhadap berbagai film horor utama dari dekade terakhir. Judul-judul seperti "Midsommar", "Smile", "M3GAN", "Get Out", serta sekuel-sekuel terbaru "Scream" menjadi sasaran empuk lelucon mereka. Film ini dengan mahir mengejek genre horor art-house, mengubah atmosfernya yang menekan menjadi sebuah lelucon absurd.
Kembalinya jajaran pemeran orisinal menjadi hadiah utama bagi para penggemar setia. A. Faris kembali memerankan Cindy dengan gemilang, sementara R. Hall kembali sebagai Brenda yang tak tertandingi—chemistry mereka di layar sama sekali tidak luntur.
Marlon Wayans sebagai Shorty memberikan penampilan yang kuat, dan Shawn Wayans kembali menghibur penonton dengan perilaku eksentrik Ray. Dari jajaran veteran waralaba, K. Elliott dan D. Sheridan juga kembali untuk memerankan karakter lama mereka. Generasi muda diperankan oleh O. Rose Keegan dan S. Lee Nassif, yang karakternya mewakili stereotip remaja modern saat ini.
Kesuksesan komersial film ini membuktikan bahwa penonton memang merindukan gaya humor hitam yang khas. Dengan anggaran 30 juta dolar, film ini mencatatkan awal yang luar biasa dengan meraup lebih dari 105 juta dolar di box office global hanya dalam beberapa hari pertama. Meski dikritik karena dianggap terlalu kasar, penonton umum menyambut kembalinya keluarga Wayans dengan antusiasme tinggi. Film ini membuktikan bahwa lelucon yang teruji waktu serta karisma para pahlawan lama masih bekerja dengan sangat baik.



